Jika Hutan Semakin Berkurang, Dari Mana Oksigen yang Kita Hirup? Tinjauan Ilmiah Siklus Oksigen Global

I. Pendahuluan
Deforestasi sering dikaitkan dengan ancaman berkurangnya oksigen di atmosfer. Narasi populer menyebut hutan sebagai “paru-paru dunia”, sehingga muncul kekhawatiran bahwa hilangnya hutan akan menyebabkan krisis oksigen. Namun, secara ilmiah, sistem oksigen global jauh lebih kompleks dan melibatkan interaksi antara biosfer daratan, lautan, dan proses geologis jangka panjang [1], [2]. Artikel ini bertujuan menjelaskan secara komprehensif sumber oksigen global, keseimbangan produksi–konsumsi oksigen, serta implikasi deforestasi terhadap stabilitas atmosfer.
Artikel ini bertujuan menjelaskan secara komprehensif sumber oksigen global, keseimbangan produksi–konsumsi oksigen, serta implikasi deforestasi terhadap stabilitas atmosfer.
II. Fotosintesis sebagai Sumber Oksigen
Oksigen dihasilkan melalui fotosintesis oksigenik dengan reaksi umum:
Organisme fotosintetik meliputi:
- Tumbuhan darat
- Alga
- Fitoplankton
- Sianobakteri
Produksi oksigen terjadi baik di daratan maupun di lautan. Produksi primer global diperkirakan sekitar 100–120 Pg C per tahun, yang hampir seimbang antara daratan dan laut [3].
III. Peran Laut dalam Produksi Oksigen
Sekitar 50% produksi primer global berasal dari laut, terutama dari fitoplankton mikroskopis [3], [4]. Meskipun ukurannya kecil, distribusinya luas dan laju pertumbuhannya tinggi. Dengan demikian, produksi oksigen global tidak hanya bergantung pada hutan, tetapi juga pada produktivitas ekosistem laut.
IV. Neraca Oksigen Global
Walaupun produksi oksigen tahunan sangat besar, hampir seluruhnya dikonsumsi kembali melalui:
- Respirasi organisme
- Dekomposisi mikroba
- Oksidasi bahan organik
Dalam sistem yang stabil: Produksi O₂ ≈ Konsumsi O₂
Cadangan oksigen atmosfer saat ini sekitar 21% dari total atmosfer, dengan massa mendekati 1,2 × 10²¹ gram [2]. Fluktuasi tahunan akibat perubahan produksi relatif kecil dibanding total cadangan tersebut. Dengan kata lain, kadar oksigen atmosfer merupakan hasil keseimbangan jangka panjang antara proses biologis dan geologis.
V. Akumulasi Oksigen dalam Skala Geologis
Oksigen mulai meningkat signifikan dalam peristiwa Great Oxidation Event sekitar 2,4 miliar tahun lalu [2]. Akumulasi ini terjadi ketika sebagian karbon organik terkubur dalam sedimen dan tidak teroksidasi kembali. Tanpa penguburan karbon, oksigen hasil fotosintesis akan habis melalui respirasi dan dekomposisi. Oleh karena itu, kadar oksigen modern adalah hasil interaksi antara biosfer dan geosfer dalam skala jutaan tahun.
V. Akumulasi Oksigen dalam Skala Geologis
Oksigen mulai meningkat signifikan dalam peristiwa Great Oxidation Event sekitar 2,4 miliar tahun lalu [2]. Akumulasi ini terjadi ketika sebagian karbon organik terkubur dalam sedimen dan tidak teroksidasi kembali.
Tanpa penguburan karbon, oksigen hasil fotosintesis akan habis melalui respirasi dan dekomposisi. Oleh karena itu, kadar oksigen modern adalah hasil interaksi antara biosfer dan geosfer dalam skala jutaan tahun.
VI. Dampak Deforestasi terhadap Oksigen Atmosfer
Deforestasi memang mengurangi kapasitas fotosintesis daratan. Namun dalam skala waktu manusia:
- Laut tetap menyumbang produksi oksigen besar.
- Cadangan oksigen atmosfer sangat besar.
- Produksi dan konsumsi oksigen hampir seimbang dalam ekosistem matang.
Dengan demikian, deforestasi tidak menyebabkan penurunan drastis kadar oksigen atmosfer dalam waktu singkat.
Ancaman utama deforestasi adalah:
- Peningkatan CO₂ atmosfer
- Perubahan iklim
- Gangguan siklus karbon dan air [1]
VII. Ancaman Sistemik: Deoksigenasi Laut
Pemanasan global dapat menyebabkan:
- Penurunan kelarutan oksigen di laut
- Stratifikasi kolom air
- Eutrofikasi dan zona mati
Fenomena ini disebut deoksigenasi laut dan berdampak besar pada ekosistem laut [4]. Walaupun belum menurunkan oksigen atmosfer secara signifikan, hal ini menunjukkan bahwa stabilitas sistem bumi bergantung pada keseimbangan darat–laut.
VIII. Analisis Kritis Narasi “Paru-Paru Dunia”
Istilah “paru-paru dunia” bersifat metaforis. Secara biogeokimia, hutan tidak menyuplai oksigen bersih dalam jumlah besar setiap tahun karena produksi dan konsumsi hampir seimbang. Peran utama hutan adalah:
- Penyerap dan penyimpan karbon
- Pengatur siklus hidrologi
- Penstabil iklim regional dan global
Oleh karena itu, argumen ilmiah yang lebih akurat adalah bahwa hutan merupakan regulator sistem bumi, bukan semata-mata pemasok oksigen.
IX. Diagram Siklus Oksigen Global

Diagram ini menunjukkan bahwa oksigen terus berputar dalam sistem, bukan hanya diproduksi satu arah.
X. Kesimpulan
Jika hutan semakin berkurang:
- Kita tidak langsung kekurangan oksigen.
- Laut tetap menjadi kontributor utama produksi oksigen.
- Cadangan oksigen atmosfer sangat besar.
Namun, deforestasi tetap berbahaya karena mengganggu keseimbangan karbon dan mempercepat perubahan iklim. Masalah utama bukan krisis oksigen, melainkan stabilitas sistem bumi secara keseluruhan.
Daftar Pustaka
- [1] IPCC, Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Cambridge: Cambridge University Press, 2021.
- [2] D. E. Canfield, Oxygen: A Four Billion Year History. Princeton: Princeton University Press, 2014.
- [3] C. B. Field et al., “Primary production of the biosphere: Integrating terrestrial and oceanic components,” Science, vol. 281, no. 5374, pp. 237–240, 1998.
- [4] P. G. Falkowski and J. A. Raven, Aquatic Photosynthesis, 2nd ed. Princeton: Princeton University Press, 2007.