Daging Katak Memicu Jamur? Fakta Mengerikan di Balik Perdagangan Katak Lembu dan Wabah Chytrid

Pernahkah Anda menikmati hidangan kaki katak atau swike? Bagi para penikmat kuliner, daging katak adalah santapan lezat. Namun, bagi para ahli biologi konservasi, piring saji tersebut menyimpan kisah kelam tentang pandemi satwa liar.

Gambar 1. Katak lembu (Aquarana catesbeiana) (Sumber : Ducharme, 2023)

Musuh utama dalam kisah ini adalah Batrachochytrium dendrobatidis (Bd), atau biasa disebut jamur chytrid. Patogen ini diakui secara luas sebagai faktor utama di balik keruntuhan populasi setidaknya 500 spesies katak dan kodok di seluruh dunia. Selera global terhadap daging katak, khususnya perdagangan bullfrog atau katak lembu (Aquarana catesbeiana), kini dikaitkan erat dengan penyebaran internasional jamur tersebut.

Katak lembu adalah spesies asli Amerika Utara yang banyak diternakkan untuk pangan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa spesies ini pertama kali dibawa masuk ke Brasil pada tahun 1935, dengan gelombang introduksi berikutnya terjadi pada tahun 1970-an. Perpindahan ini bukan sekadar memindahkan hewan ternak, melainkan menciptakan jalan tol baru bagi jamur Batrachochytrium dendrobatidis (Bd) untuk melintasi batas negara.

Gambar 1. Katak lembu (Aquarana catesbeiana) (Sumber : Gusso, 2023)

Salah satu poin paling menarik dari penelitian terbaru ini adalah bagaimana ia menantang konsensus ilmiah sebelumnya. Sebuah galur (strain) tertentu, yang dikenal sebagai Bd-Brazil, dinamai pada tahun 2012 setelah diidentifikasi di negara tersebut. Akan tetapi, asal-usulnya sempat menjadi kontroversi panas. Pada tahun 2018, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Science mengusulkan bahwa galur tersebut sebenarnya muncul di Semenanjung Korea, sehingga sempat dinamai ulang menjadi Bd-Asia-2/Bd-Brazil.

Temuan baru yang diterbitkan dalam Biological Conservation dan didukung oleh FAPESP ini membantah klaim tersebut. Tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan dari Universidade Estadual de Campinas (UNICAMP) menyajikan bukti kuat bahwa galur tersebut memang berasal dari Brasil. Sejak itu, galur ini telah terdeteksi menyebar ke Amerika Serikat, Jepang, dan kembali ke Semenanjung Korea.

Luisa P. Ribeiro, penulis utama studi dari Institut Biologi UNICAMP, menjelaskan anomali yang menjadi kunci temuan ini:

“Genotipe ini sangat umum pada berbagai spesies asli Brazil, dengan catatan yang sangat tua. Ketika kita melihat ke tempat lain, catatannya jauh lebih baru dan hanya terjadi pada bullfrog serta spesies eksotis lainnya. Namun di sini (Brasil), galur tersebut ada baik di peternakan katak maupun di alam liar, termasuk pada beberapa spesies asli yang tidak mengembangkan penyakit tersebut.”

Untuk membuktikan teori ini, para peneliti harus melihat ke masa lalu. Kolaborator internasional memeriksa 2.280 spesimen amfibi yang dikumpulkan antara tahun 1815 hingga 2014 yang tersimpan di museum zoologi seluruh dunia. Hasilnya mengejutkan:

  • Studi sebelumnya (2014) dan data baru mengonfirmasi bahwa Bd-Brazil sudah ada di Brasil pada tahun 1916, sekitar 20 tahun sebelum katak lembu pertama kali diperkenalkan ke sana.
  • Dari 40 spesimen museum yang positif terinfeksi, kasus terkonfirmasi paling awal adalah lima ekor katak Alytes obstetricans yang dikumpulkan pada tahun 1915 di Pyrenees, Prancis.
  • Catatan tertua kedua melibatkan katak Megaelosia goeldii (kerabat Megophrys) di Rio de Janeiro yang dikumpulkan pada tahun 1964.

Luís Felipe Toledo, salah satu peneliti utama, menyoroti tantangan dalam forensik biologi ini :

“Kami tidak dapat mengidentifikasi galur yang pasti dalam sampel besar amfibi yang disimpan di museum, karena pengawetannya tidak selalu ideal untuk mempertahankan informasi ini. Oleh karena itu, kami hanya mengidentifikasi ada atau tidaknya jamur pada individu-individu tersebut dan mencari bukti lain yang dapat mengindikasikan apakah Bd-Brazil berasal dari Brazil atau tidak.”

Analisis tim peneliti tidak berhenti di laboratorium genetika. Mereka memetakan 3.617 rute perdagangan daging katak yang melibatkan 48 negara. Peta ini mengonfirmasi bahwa Brasil bertindak sebagai sumber, sementara perdagangan global menjadi rute penyebarannya. Menariknya, galur Bd-Brazil ini diketahui kurang agresif dibandingkan dengan varian Bd-GPL (Global Panzootic Lineage) yang kemungkinan berasal dari Asia. Meski demikian, penyebarannya tetap menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati karena potensinya untuk bermutasi atau menekan sistem imun amfibi lokal yang belum pernah terpapar.

Pertanyaan mendasar yang mungkin muncul di benak konsumen adalah: apakah daging katak aman untuk dimakan? Jawabannya adalah ya. Jamur Batrachochytrium dendrobatidis (Bd) secara spesifik menyerang keratin pada kulit amfibi dan tidak berbahaya bagi manusia. Selain itu, dalam konteks perdagangan konsumsi, produk beku umumnya dipasarkan tanpa kulit dan telah melalui proses pengolahan seperti pembuangan isi perut dan pembekuan yang secara drastis mengurangi kemungkinan adanya jamur hidup pada daging.

Akan tetapi perlu diingat bahwa jaminan keamanan pangan ini tidak boleh membuat kita lengah terhadap biaya ekologis yang tersembunyi. Fokus krisis ini bukanlah bahaya bagi manusia yang mengonsumsinya, melainkan bagaimana perdagangan katak hidup dan limbahnya menjadi vektor penyakit mematikan bagi populasi amfibi liar. Oleh karena itu, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini menyoroti kebutuhan mendesak akan tindakan pencegahan yang lebih kuat. Tanpa peraturan impor yang ketat, penapisan (screening) patogen rutin, dan karantina yang efektif, perdagangan kuliner global akan terus menjadi ancaman bagi kelestarian alam. Kita harus memastikan bahwa selera makan kita tidak menjadi penyebab kepunahan suara alam di masa depan

Ribeiro, L. P., Ernetti, J. R., Ruggeri, J., Jenkinson, T. S., Loyau, A., Butler, H., … & Toledo, L. F. (2026). Origin and Global Spread of an Endemic Chytrid Fungus Lineage Linked to the Bullfrog Trade. Biological Conservation, 313, 111547. DOI : https://doi.org/10.1016/j.biocon.2025.111547.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ilustrasi proses pencernaan yang menampilkan interaksi enzim, mikroorganisme, dan molekul nutrien dalam sistem pencernaan. Previous post Dunia Tak Terlihat di Dalam Tubuh: Peran Mikrobiota Usus dalam Fisiologi Manusia
Next post Bakteri: Catatan Studi dan Panduan Lengkap