Kenapa Kita Makin Sulit Fokus Karena Scroll Media Sosial? Penjelasan Biologi dan Neurosains di Baliknya
Banyak orang merasa belakangan ini semakin sulit fokus membaca, cepat bosan, tidak tahan menonton video panjang, dan refleks membuka ponsel tanpa tujuan jelas. Fenomena ini sering disebut di internet sebagai brainrot. Walaupun terdengar seperti istilah gaul, kondisi ini memiliki dasar biologis yang kuat dalam cara kerja dopamin, sistem atensi otak, memori kerja, dan neuroplastisitas. Dari sudut pandang neurosains, paparan konten digital pendek yang sangat cepat dan berulang memicu adaptasi sistem saraf sehingga otak menjadi terbiasa dengan stimulasi instan dan kehilangan toleransi terhadap aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang [1], [2].
Sistem Dopamin: Mengapa Konten Pendek Terasa Sangat “Narik”
Otak manusia memiliki sistem penghargaan yang dikendalikan oleh neurotransmiter dopamin. Sistem ini secara evolusioner dirancang untuk memberi motivasi saat kita melakukan aktivitas penting seperti makan, belajar, atau interaksi sosial.
Konten video 10–30 detik di media sosial bekerja seperti “reward cepat” yang memicu lonjakan dopamin berulang dalam waktu singkat. Studi menunjukkan bahwa notifikasi, scroll tak berujung, dan variasi konten acak bekerja mirip dengan mekanisme variable reward system yang juga ditemukan pada perjudian [3]. Akibatnya:
- Otak menginginkan stimulasi cepat terus menerus
- Aktivitas lambat seperti membaca buku terasa membosankan
- Muncul dorongan kompulsif untuk terus scrolling
Secara biologis, ini menyerupai pola adiksi perilaku non-zat [4].
Prefrontal Cortex Melemah: Pusat Fokus dan Kontrol Diri Terganggu

Prefrontal cortex bertanggung jawab terhadap perhatian berkelanjutan, pengambilan keputusan, dan kontrol impuls. Paparan rangsangan cepat yang terus menerus menurunkan kemampuan bagian ini dalam mempertahankan fokus lama. Penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa penggunaan media digital berlebihan berkaitan dengan penurunan efisiensi kontrol kognitif dan peningkatan distraktibilitas [5]. Inilah sebabnya seseorang:
- Sulit membaca teks panjang
- Tidak tahan menonton video edukatif berdurasi lama
- Cepat berpindah perhatian
Memori Kerja dan Berpikir Mendalam Menurun
Memori kerja memungkinkan otak menyimpan dan memproses informasi sementara untuk dianalisis. Ketika otak terbiasa menerima informasi cepat dan dangkal, kapasitas untuk melakukan pemrosesan mendalam menurun. Studi pada perilaku multitasking digital menunjukkan bahwa paparan informasi cepat yang terus menerus menurunkan kemampuan menyaring informasi relevan dan mengganggu memori kerja [6]. Akibatnya, seseorang lebih mudah mengingat potongan informasi pendek dibanding memahami konsep utuh.
Neuroplastisitas: Otak Berubah Mengikuti Kebiasaan Digital

Otak bersifat plastis. Jalur saraf yang sering digunakan akan diperkuat, sedangkan yang jarang digunakan akan melemah. Jika setiap hari otak dilatih menerima ratusan potongan video pendek, maka jalur pemrosesan cepat diperkuat. Sebaliknya, jalur yang mendukung fokus panjang, refleksi, dan pemikiran analitis melemah [7]. Ini menjelaskan mengapa brainrot bukan sekadar kebiasaan, tetapi perubahan pola kerja saraf.
Gejala Brainrot yang Sering Tidak Disadari
Secara biologis, tanda-tandanya meliputi:
- Rentang perhatian sangat pendek
- Gelisah saat tidak memegang ponsel
- Kesulitan memahami bacaan panjang
- Kecenderungan membuka aplikasi tanpa sadar
- Perasaan cepat bosan tanpa stimulasi
Gejala ini konsisten dengan gangguan regulasi dopamin dan atensi [3], [5].
Apakah Ini Merusak Otak Secara Permanen
Tidak. Karena sifat plastis otak, perubahan ini dapat dibalik. Penelitian menunjukkan bahwa pembatasan paparan digital dan latihan fokus dapat mengembalikan fungsi atensi dan kontrol kognitif secara bertahap [7], [8].
Apakah Ini Merusak Otak Secara Permanen
Tidak. Karena sifat plastis otak, perubahan ini dapat dibalik. Penelitian menunjukkan bahwa pembatasan paparan digital dan latihan fokus dapat mengembalikan fungsi atensi dan kontrol kognitif secara bertahap [7], [8].
Cara Mengembalikan Fokus Berdasarkan Neurosains
Beberapa strategi yang terbukti efektif:
- Mengurangi konsumsi konten pendek
- Melatih membaca teks panjang setiap hari
- Menerapkan deep work tanpa distraksi
- Waktu tanpa layar sebelum tidur
- Tidur cukup untuk pemulihan prefrontal cortex [8]
Referensi
- [1] A. Alter, Irresistible: The Rise of Addictive Technology, Penguin, 2017.
- [2] M. Meshi, L. Tamir, and H. Heekeren, “The emerging neuroscience of social media,” Trends in Cognitive Sciences, vol. 19, no. 12, 2015.
- [3] N. B. Ellison, “Social media and dopamine driven feedback loops,” Current Opinion in Psychology, 2017.
- [4] A. Montag and C. Reuter, “Internet addiction and problematic smartphone use,” Frontiers in Psychology, 2017.
- [5] A. Firth et al., “The online brain: how the Internet may be changing our cognition,” World Psychiatry, 2019.
- [6] E. Ophir, C. Nass, and A. Wagner, “Cognitive control in media multitaskers,” PNAS, 2009.
- [7] M. Merzenich, Soft-Wired: How the New Science of Brain Plasticity Can Change Your Life, 2013.
- [8] D. Rock, “Your brain at work,” HarperCollins, 2009.
