Robert Hooke adalah ilmuwan lulusan Oxford yang menghabiskan karirnya di Royal Society and Gresham College. Penelitian dan eksperimennya berkisar dari astronomi, biologi, hingga fisika. Pada bidang fisika, Robert Hooke diakui sebagai pencetus Hukum Hooke untuk elastisikas penggunaan mikroskop. Publikasi Hooke yang paling penting dalam Micrographia pada tahun 1665 adalah mendokumentasikan eksperimen yang dibuatnya menggunakan mikroskop. Dalam studinya, ia menciptakan istilah Sel saat membahas struktur gabus. Dia juga menggambarkan lalat, bulu dan kepingan salju, dan dengan tepat mengidentifikasi fosil sebagai sisa-sisa mahluk yang pernah hidup.
Dalam Micrographia, Hooke menulis:
“….. Saya dapat dengan sangat jelas melihat strukturnya berlubang dan keropos, seperti sarang lebah, tetapi pori-porinya tidak teratur …. pori-pori ini, atau sel …. memang pori-pori mikroskopis pertama yang pernah saya lihat dan mungkin yang pernah terlihat, karena saya belum pernah bertemu dengan penulis atau orang manapun yang pernah menyebutkannya sebelum ini ….”

Hooke telah menemukan sel tumbuhan. Lebih tepatnya, apa yang dilihat Hooke adalah dinding sel dalam jaringan gabus. Faktanya, Hooke-lah yang menciptakan istilah “Sel”. Hooke juga melaporkan melihat struktur serupa di kayu dan tanaman lain. Pada tahun 1678, setelah Leeuwenhoek menulis kepada Royal Society dengan laporan penemuan “animalcule”, Hooke diminta oleh lembaga tersebut untuk mengkonfirmasi penemuan Leeuwenhoek. Hooke berhasil melakukannya, sehingga membuka jalan bagi penerimaan yang lebih luas terkait penemuan Leeuwenhoek. Hooke mencatat bahwa mikroskop sederhana Leeuwenhoek memberikan gambar yang lebih jelas daripada mikroskopnya.
Pada tahun 1676, Anthony van Leeuwenhoek mengamati air dari dekat dan terkejut melihat organisme kecil – bakteri pertama yang diamati oleh manusia. Suratnya yang mengumumkan penemuan ini menyebabkan keraguan yang meluas di Royal Society tetapi Robert Hooke kemudian mengulangi percobaan tersebut dan dapat mengkonfirmasi penemuannya. Selain sebagai bapak mikrobiologi, van Leeuwenhoek meletakkan dasar-dasar anatomi tumbuhan dan menjadi ahli reproduksi hewan. Dia menemukan sel darah dan nematoda mikroskopis, dan mempelajari struktur kayu dan kristal. Dia juga membuat lebih dari 500 mikroskop untuk melihat objek tertentu. Dia juga menemukan sperma, yang dia anggap sebagai salah satu penemuan terpenting dalam karirnya, dan menggambarkan spermatozoa dari moluska, ikan, amfibi, burung, dan mamalia, sampai pada kesimpulan baru bahwa pembuahan terjadi ketika spermatozoa menembus sel telur.
Makalah Leeuwenhoek pada tahun 1677 tentang protozoa memberikan deskripsi terperinci tentang protista dan bakteri yang hidup diberbagai lingkungan. Para ilmuwan pada masa itu kemudian tidak dapat menandingi resolusi dan kejelasan mikroskop Leeuwenhoek, sehingga penemuannya diragukan atau bahkan diabaikan, sehingga pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu biologi tidak dapat diabaikan. van Leeuwenhoek menyebut para binatang kecil itu dengan istilah “animalcules” yang berarti hewan yang berukuran kecil.

Leeuwenhoek menuelidiki kembali spermatozoa dari berbagai organisme sehat (manusia, ikan, burung, cacing, anjing) dan menemukan bahwa dirinya cukup yakin untuk menulis bahwa animalcules atau spermatozoa terdiri dari begitu banyak bagian sebagai penyusun tubuh. Leewenhoek lebih lanjut berspekulasi bahwa animalcule menempelkan dirinya ke pembuluh darah di dalam rahim, dimana ia menerima makanan untuk tumbuh. Saat itu Leeuwenhoek percaya bahwa animalcules dalam bentuk spermatozoa akan menjadi sosok manusia yang dilengkapi dengan jantung dan usus lainnya, dan memang memiliki semua kesempurnaan manusia.
Teori preformasionis menyatakan bahwa sel germinal dari setiap organisme mengandung miniatur dewasa yang belum terbentuk dan akan tumbuh selama masa perkembangan embrio. Pengamatan pertama tentang sperma dilakukan oleh Anthony van Leeuwenhoek pada tahun 1677 yang melihat ribuan mahluk mirip cacing dan diberi nama animalcule. Temuan van Leeuwenhoek mendukung pandangan preformasionist. Pandangan preformasionist van Leeuwenhoek mendekati sudut pandang Aristoteles sebagai pencetus teori, karena sperma mengandung semua input yang diperlukan untuk perkembangan, sedangkan betina hanya menyediakan materi untuk pertumbuhan embrio.
Sebuah catatan kaki dalam buku karya Aristoteles yang berjudul “De Generatione Animalium” menjelaskan bahwa epigenesis berkaitan dengan pertanyaan sentral dalam perkembangan embriologis. Perdebatan antara epigenesis dan preformasionsit memunculkan kontroversi berabad-abad, yang akhirnya berpuncak pada uji coba untuk mensintesis keduanya. Untuk memahami sifat dari sintesis ini, penting untuk menyelidiki esensi dari istilah pusat epigenesis dan preformasionist. Epigenesis dalam pandangan Aristoteles adalah sebuah hierarki bentuk, dimana produk dari satu generasi bertindak sebagai materi untuk pembentukan tingkat organisasi berikutnya.

Swammerdam adalah ahli serangga yang banyak meneliti perihal metaborfosis. Salah satu penelitian yang menggugah adalah penelitian terkait dengan metamorfosis katak, dimana Swammerdam menghubungkan serangga dan katak melalui demonstrasi bahwa semuanya mengalami epigenesis. Hal ini menunjukkan kekecewaan Swammerdam akan paham preformasionist yang mengatakan bahwa hewan yang muncul diawal perkembangan menunjukkan bentuk akhir dari hewan tersebut. Swammerdam sendiri mengemukakan teori metamorfik dan epigenetik.
Dutrochet belajar kedokteran di Paris sekitar tahun 1806 dan kemudian menjabat sebagai perwira medis militer di Spanyol sebelum kemudian meninggalkan praktik kedokterannya untuk mengabdikan karirnya pada penelitian ilmiah. Ketika Dutrochet memperbatikan kesamaan proses fisik dan kimia pada hewan dan tumbuhan, ia mengarahkan studinya ke fisiologi tumbuhan dan hewan. Dutrochet adalah orang pertama yang menyelidiki secara menyeluruh mekanisme respirasi, sensitivitas cahaya, dan geotropisme pada tumbuhan, serta eksperimen klasiknya pada osmosis memperoleh pengakuan perannya dalam transportasi tanaman internal dan difusi melalui membran semipermeabel. Dutrochet juga mengungkapkan bahwa jamur adalah tubuh reproduksi dan merupakan orang yang menyatakan pentingnya sel individu dalam fungsi suatu organisme.
Robert Brown merupakan ahli botani dari Skotlandia yang terkenal karena deskripsinya tentang inti sel dan gerakan kontiniu berupa partikel kecil dalam larutan yang kemudian disebut dengan gerak Brown. Pada tahun 1827, Brown mengamati dengan menggunakan mikroskop, bahwa partikel kecil yang dikeluarkan dari butiran serbuk sari yang tersuspensi ke dalam air melakukan semacam gerakan terus menerus yang disebut dengan Gerak Brown. Dia kemudian mengamati gerakan yang sama dalam materi anorganik dan menyimpulkan bahwa gerakan itu bukan karena kekuatan tertentu.

Hugo von Mohl merupakan ahli botani berkebangsaan Jerman yang terkenal karena penelitiannya tentang anatomi dan fisiologi sel tumbuhan. Von Mohl mengembangkan gagasan bahwa inti sel berada dalam butiran bahan koloid yang membentuk substansi utama sel. Pada tahun 1846, ia menamai zat ini dengan nama “protoplasma”, sebuah kata yang ditemukan oleh ahli fisiologi Ceko, Jan Evangelista Purkinje dengan mengacu pada materi embrionik yang ditemukan dalam telur. Von Mohl juga pertama kali mengusulkan bahwa sel-sel baru dibentuk oleh pembelahan sel, sebuah proses yang ia amati pada sejenis alga. Tahun 1851, ia mengusulkan pandangan yang sekarang telah dikonfirmasi bahwa dinding sekunder sel tumbuhan memiliki struktur yang berserat.
Teori sel klasik diusulkan oleh Theodor Schwann pada tahun 1839. Ada tiga bagian dari teori ini. Pertama menyatakan bahwa semua organisme terbuat dari sel. Kedua menyatakan bahwa sel adalah unit dasar kehidupan. Bagian ini didasarkan pada kesimpulan yang dibuat oleh schwann dan Matthias Schleiden pada tahun 1838, setelah membandingkan pengamatan mereka terhadap sel tumbuhan dan hewan. Ketiga, menegaskan bahwa sel berasal dari sel yang sudah ada sebelumya yang telah berkembang biak, seperti yang dijelaskan oleh Rudolf Virchow pada tahun 1858 ketika menyatakan omnis cellula e cellula (semua sel berasal dari sel)
Penelitian Virchow membantu membangun konsep patologi seluler, gagasan bahwa semua penyakit disebabkan oleh perubahan sel normal. Virchow berpendapat bahwa kehidupan hanyalah hasil dari proses aktivitas seluler. Pada tahun 1855, Virchow mengembangkan lebih lanjut tentang ide nya dengan menerbitkan pepatah yang terkenal “omnis cellula e cellula” yang menjadi dasar teori sel. Teori Virchow menyatakan bahwa sama seperti hewan tidak dapat muncul tanpa hewan yang sudah ada sebelumnya, sel tidak dapat muncul tanpa sel yang ada sebelumnya. Gagasan bahwa sel -sel baru muncul dari sel yang sudah ada sebelumnya, baik di jaringan yang sakit maupun sehat bukan gagasan asli dari Virchow.
Walter Flemming merupakan ahli anatomi Jerman, dan pendiri ilmu sitogenetika.Flemming merupakan orang pertama yang mengamati dan menggambarkan secara sistematis perilaku kromosom di dalam inti sel selama pembelahan sel (mitosis). Setelah menjadi dokter militer selama perang Prancis-Jerman, Flemming memperoleh posisi penting di Universitas Praha dan Universitas Kiel. Flemming merupakan pelopor penggunaan pewarna aniline yang baru ditemukannya untuk memvisualisasikan struktur sel, dan pada tahun 1879 dia menyatakan bahwa beberapa pewarna tertentu mampu mewarnai benang spindel di dalam nukleus. Melalui penemuannya ini, Flemming menjelaskan serangkaian peristiwa penting yang terjadi di nukleus selama pembelahan sel. Dia menunjukkan bahwa benang spindel memendek dan tampaknya membelah secara longitudinal menjadi dua bagian dan menuju kearah yang berlawanan. Seluruh hasil risetnya terkait mitosis ditulis dalam buku bersejarah yang berjudul “Zell-substanz, Kern und Zelltheilung” atau yang berarti “Cell-Substance, Nucleus, and Cell-Division”. Tetapi penemuan Flemming terhadap peran mitosis dalam hereditas tidak sepenuhnya dihargai, hingga pengakuan prinsip-prinsip hereditas Gregor Mendel dibuka kembali 20 tahun kemudian.
Wilhelm August Oscar Hertwig berkontribusi pada ilmu embriologi melalui studinya tentang sel yang dalam penemuannya menyatakan bahwa satu spermatozoa diperlukan untuk membuahi sel telur. Hertwig awalnya mengabdikan dirinya untuk mempelajari perkembangan morfologis, topik yang ditulisnya dalam disertasi doktoralnya di Bonn pada tahun 1872. Nanum ia beralih mempelajari sifat proses pembuahan, setelah membaca organologische studien karya Leopold Auebach. Pada masa itu, pandangan utama terkait embriologi adalah bahwa spermatozoa melakukan kontak dengan telur dan merangsang perkembangan melalui transmisi getaran mekanis, atau spermatozoa menembus telur dan bercampur dengan komponen kimianya. Hertwig mampu menemukan proses pembuahan itu pada Bulu Babi (Sea urchin), dimana ia menemukan bahwa hanya satu spermatozoa yang memasuki sel telur, dan sel telur tersebut akan membentuk membran viteline yang menghalangi masuknya spermatozoa lainnya.
Max Schultze belajar kedokteran di Greifswald dan Berlin serta diangkat sebagai profesor luar biasa di Halle pada 1854 dan lima tahun kemudian diangkat menjadi profesor biasa di bidang anatomi dan histologi oleh Direktur Institut Anatomi di Bonn. Max Schultze dikenal karena karyanya pada teori tentang sel. Dengan menggabungkan teori Felix Dujardin dan kosep Sarcode pada binatang dengan Hugo Von Mohl dengan protoplasma pada sayuran. Schultze menegaskan bahwa protoplasma merupakan dasar-dasar fisik kehidupan. Protoplasma bukan hanya bagian struktural sel, tetapi juga merupakan bagian penting sel sebagai tempat berlangsung reaksi-reaksi kimia kehidupan.Protoplasma juga merupakan tempat terjadinya proses hidup.