IUCN Kini Resmi Lindungi Mikroba : Urgensi Konservasi Mikroba dalam Menghadapi Krisis Iklim dan Degradasi Ekosistem

Untuk pertama kalinya dalam sejarah konservasi, sebuah inisiatif global akhirnya menempatkan keanekaragaman hayati mikroba di garis depan perencanaan lingkungan. Langkah monumental ini diwujudkan melalui pembentukan Microbial Conservation Specialist Group (MCSG) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) di bawah naungan Komisi Kelangsungan Hidup Spesies (SSC). Dipimpin oleh Profesor Jack Gilbert dan Raquel Peixoto, serta berpedoman pada roadmap komprehensif Safeguarding Microbial Biodiversity, inisiatif ini menandai sebuah pergeseran paradigma fundamental: dari sekadar menyelamatkan spesies individu menuju pelestarian jaringan kehidupan tak kasat mata yang menopang seluruh planet.

Urgensi dari misi MCSG ini berakar kuat pada fakta bahwa kita sejatinya hidup di dunia mikroba. Seperti yang dipetakan dalam distribusi globalnya, mikroba bersifat ada di mana-mana (ubiquitous); mereka menghuni setiap ceruk ekosistem yang diketahui, mulai dari kedalaman laut, lapisan es kutub, dan gurun gersang, hingga tanah, air tawar, dan atmosfer. Lebih dari sekadar hadir, mereka membentuk hubungan simbiosis yang erat dengan segala bentuk kehidupan termasuk tumbuhan, hewan, dan manusia serta berinteraksi secara kompleks di antara sesama mikroba itu sendiri.

Gambar 1. (A) Mikroba ada di mana-mana (ubiquitous), menghuni setiap ekosistem mulai dari laut dalam, es kutub, gurun, hingga atmosfer. Gambar ini mengilustrasikan sebaran global mikroba serta hubungan erat (simbiosis) yang mereka bentuk dengan tumbuhan, hewan, manusia, dan sesama mikroba. (B) Keberadaan mikroba yang meluas menopang kehidupan di Bumi dan masa depan planet ini. Fungsi kuncinya meliputi: Menggerakkan siklus biogeokimia; Menjadi mesin evolusi genetik; Sangat krusial bagi ketersediaan pangan (pertanian, akuakultur, fermentasi) dan kesehatan ekosistem (Sumber : Gilbert et al., 2025).

Distribusi yang luas ini bukan sekadar fenomena biologis, melainkan bukti peran sentral mikroba sebagai “mesin” utama sistem planet yang memungkinkan Bumi tetap layak huni di masa depan. Secara fungsional, komunitas tak kasat mata ini bekerja tanpa henti:

  • Pengendali Sistem Bumi
    Mereka menggerakkan siklus biogeokimia, mengatur iklim melalui penyerapan karbon dan pengelolaan gas rumah kaca, serta berpotensi menjadi kunci rekayasa lingkungan planet (terraforming).
  • Mesin Evolusi & Bioteknologi
    Mikroba memengaruhi evolusi makhluk hidup, menjadi sumber inovasi genetik, serta menjadi landasan utama bioteknologi di sektor kesehatan, industri, dan lingkungan.
  • Penopang Pangan & Kesehatan
    Meskipun sebagian kecil dapat memicu penyakit, mikroba sangat esensial bagi kesehatan ekosistem dan organisme. Mereka krusial dalam produksi pangan (pertanian, akuakultur, fermentasi) dan daur ulang nutrisi.

Dengan demikian, kehadiran MCSG menjadi sangat krusial karena jaringan fungsi mikroba yang saling terhubung ini, baik dalam proses alami maupun solusi terapan memiliki kepentingan yang tak tertandingi. Melindungi 99% kehidupan yang tak terlihat ini bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat mutlak untuk menjaga keberlangsungan Bumi itu sendiri.

Selama ini, kebijakan konservasi global seperti IUCN Red List lebih berfokus pada hewan dan tumbuhan makroskopis. Padahal, mikroorganisme adalah fondasi biologis kehidupan di Bumi. Mereka mengatur kesuburan tanah, siklus karbon, produktivitas laut, serta kesehatan tanaman dan hewan.

Profesor Gilbert menegaskan, “Tidak ada konservasi tanpa konservasi mikroba.”

Mengabaikan keanekaragaman mikroba melemahkan ketahanan iklim, keamanan pangan, dan upaya restorasi ekosistem. Berbeda dengan kepunahan masa lalu, penurunan keanekaragaman mikroba saat ini didorong oleh aktivitas manusia (antropogenik) seperti:

  • Perusakan Habitat : Deforestasi dan pertanian intensif yang mengganggu keseimbangan mikrobioma tanah.
  • Polusi : Limbah industri, pestisida, dan penggunaan antibiotik berlebih yang memusnahkan mikroba menguntungkan dan memicu resistensi.
  • Perubahan Iklim : Pemanasan global dan pencairan gletser yang menghilangkan taksa spesialis purba.
Gambar 1. Aktivitas manusia (seperti polusi dan perusakan habitat) mematikan mikroba bermanfaat dan justru menyuburkan patogen (penyakit). Akibatnya, penyakit menyebar luas merusak ekosistem dan pada akhirnya mengancam kesehatan manusia (Sumber : Gilbert et al., 2025)

Tekanan antropogenik (akibat aktivitas manusia) dan hilangnya keanekaragaman mikroba mendorong degradasi ekosistem serta perkembangbiakan patogen di seluruh bioma yang saling terhubung. Tanpa adanya keanekaragaman dan mikrobiota yang bermanfaat, habitat darat, pesisir, dan laut semakin terhubung oleh penyebaran mikroorganisme berbahaya yang dipicu oleh polusi, kerusakan habitat, dan perubahan iklim. Deforestasi, limpasan pertanian, kontaminasi bahan kimia, dan limbah industri mengganggu keseimbangan komunitas mikroba, yang menyebabkan tergantikannya mikroba bermanfaat oleh taksa patogen. Patogen-patogen ini bersirkulasi di antara ekosistem dan inang, memperparah hilangnya keanekaragaman hayati, merusak kesehatan organisme, serta mengancam jasa ekosistem dan, pada akhirnya, kesehatan manusia.

Tanpa intervensi, hilangnya keanekaragaman ini dapat mengguncang fungsi ekosistem secara permanen, karena teknologi buatan manusia tidak dapat menggantikan jasa ekosistem kompleks yang disediakan oleh jaringan mikroba.

Bersama komunitas internasional yang terdiri dari ahli mikrobiologi, ekolog, ahli hukum, dan pemegang pengetahuan adat dari lebih dari 30 negara, MCSG telah merancang roadmap strategis. Strategi ini menguraikan lima komponen inti dalam Siklus Konservasi Spesies IUCN :

  • Penilaian (Assessment)
    Mengembangkan metrik standar yang kompatibel dengan Red List untuk mengevaluasi status konservasi komunitas mikroba. Ini termasuk pemetaan titik panas (hotspots) mikroba di wilayah kritis seperti Antartika, laut dalam, hingga mikrobioma hewan.
  • Perencanaan (Planning)
    Menciptakan kerangka kerja etika dan ekonomi untuk intervensi mikroba. Hal ini mencakup analisis risiko-manfaat dalam penggunaan bioteknologi untuk konservasi.
  • Tindakan (Action)
    Merintis proyek restorasi menggunakan solusi berbasis mikroba, seperti penggunaan probiotik untuk memulihkan terumbu karang, pemulihan karbon tanah, dan biobanking (penyimpanan sampel mikrobioma) sebagai asuransi masa depan, mirip dengan Svalbard Global Seed Vault.
  • Jejaring (Networking)
    Membangun gerakan global yang inklusif dengan menghubungkan ilmuwan, koleksi kultur, dan penjaga adat di seluruh dunia, serta bermitra dengan kelompok spesialis IUCN lainnya.
  • Komunikasi & Kebijakan (Communication & Policy)
    Mengubah narasi bahwa mikroba itu tidak relevan menjadi sangat diperlukan melalui kampanye “Invisible but Indispensable”. Tujuannya adalah menanamkan indikator mikroba ke dalam kebijakan global, termasuk strategi One Health.

MCSG akan beroperasi dengan model hub-and-spoke, menempatkan petugas penghubung di dalam kelompok IUCN lain (seperti kelompok Perubahan Iklim atau Kesehatan Satwa Liar) untuk memastikan perspektif mikroba terintegrasi di semua sektor. Namun, Profesor Gilbert mengakui adanya tantangan ilmiah dan etika yang besar. Menentukan apa yang memenuhi syarat sebagai spesies dalam dunia mikroba sangatlah rumit karena struktur komunitas yang dinamis dan ketidakstabilan taksonomi. Dilain hal, ada tantangan etis dalam penanganan sampel mikrobioma, terutama yang berkaitan dengan manusia atau masyarakat adat.

“Konservasi mikroba harus berhadapan dengan keanekaragaman tak terlihat yang sangat besar… ini memerlukan definisi baru tentang ‘kehilangan’, ‘restorasi’, dan ‘hak mikroba’,” jelas Gilbert.

Didukung oleh pendanaan awal dari Gordon & Betty Moore Foundation serta dukungan dari AMI dan ISME, fase pertama inisiatif ini berfokus pada pembuatan indeks konservasi dan koordinasi arsip global. Target ambisius telah ditetapkan:

  • 2027 : Peluncuran kerangka kerja Microbial Red List pertama.
  • 2030 : Memastikan indikator mikroba dimasukkan bersama tanaman dan hewan dalam target keanekaragaman hayati PBB.

Untuk mencapai kemajuan jangka panjang, diperlukan investasi berkelanjutan dalam jaringan pemantauan dan teknologi digital-twin (AI) untuk memprediksi respons mikroba terhadap perubahan lingkungan. Namun, yang paling penting adalah membangun literasi mikroba publik, kesadaran bahwa tanpa organisme mikroskopis ini, tujuan konservasi global seperti reforestasi atau kelangsungan hidup spesies tidak akan dapat dicapai secara berkelanjutan.

Gilbert, J. A., Scholz, A. H., Dominguez Bello, M. G., Korsten, L., Berg, G., Singh, B. K., … & Peixoto, R. (2025). Safeguarding microbial biodiversity: microbial conservation specialist group within the species survival commission of the International Union for Conservation of Nature. FEMS microbiology ecology, 101(12), fiaf107. DOI : https://doi.org/10.1093/sumbio/qvaf024.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BLAST dalam Bioinformatika: Jenis, Langkah, dan Aplikasinya Previous post Apa Itu BLAST? Jenis, Proses, dan Aplikasinya dalam Bioinformatika
Apa itu Mesin PCR (Polymerase Chain Reaction): Prinsip Kerja, Komponen, Tahapan, dan Aplikasinya dalam Biologi Molekuler Next post Mesin PCR (Polymerase Chain Reaction): Prinsip Kerja, Komponen, Tahapan, dan Aplikasinya dalam Biologi Molekuler