Mengapa Akhir-Akhir Ini Nyamuk Banyak Sekali? Studi Kasus dari Hutan Atlantik, Brasil
Pernahkah Anda merasa akhir-akhir ini jumlah nyamuk di sekitar rumah semakin tak terkendali? Anda tidak sendirian. Fenomena serbuan nyamuk ini bukan sekadar perasaan anda saja, melainkan dampak dari perubahan lingkungan yang nyata.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di Frontiers in Ecology and Evolution mengungkapkan bahwa fenomena ini bukan sekadar perasaan semata. Penelitian yang dilakukan di sisa-sisa Hutan Atlantik, Rio de Janeiro, Brasil, menunjukkan adanya hubungan erat antara kerusakan lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan perilaku makan nyamuk. Berikut adalah 4 alasan utama mengapa nyamuk terasa semakin banyak di sekitar kita.
Deforestasi Memaksa Nyamuk Beradaptasi
Salah satu penyebab utama adalah hilangnya vegetasi asli atau rumah mereka, dan mereka pindah ke rumah kita. Dalam studi tersebut, Hutan Atlantik adalah salah satu ekosistem paling kaya di dunia, namun kini kondisinya kritis. Hanya sekitar 29% dari cakupan hutan asli yang tersisa akibat aktivitas manusia seperti pertanian dan pembangunan pemukiman. Dampaknya sangat signifikan terhadap perilaku nyamuk, diantaranya adalah :
- Hilangnya Inang Alami
Deforestasi mengurangi keanekaragaman hewan (burung, mamalia, reptil) yang menjadi sumber makanan utama nyamuk. - Pergeseran ke Manusia
Ketika hewan liar menghilang, nyamuk tidak mati, melainkan mencari alternatif yaitu manusia. Dominasi gigitan pada manusia sering kali disebabkan oleh keberadaan penduduk, turis, atau peneliti yang sering masuk ke area habitat nyamuk.. - Invasi ke Pemukiman
Degradasi hutan membuat nyamuk vektor mendekati area peridomestik (sekitar rumah), meningkatkan kontak langsung dengan manusia.
Siapa Pelakunya? Mengenal Spesies yang “Haus Darah” Manusia
Dalam studi ini, para peneliti menangkap 1.714 nyamuk dan menganalisis isi perut mereka menggunakan teknik molekuler (DNA). Hasilnya mengejutkan, dari sampel yang berhasil diidentifikasi, terdapat dominasi darah manusia pada 9 spesies nyamuk berbeda. Berikut adalah beberapa spesies kunci yang perlu diwaspadai :
- Aedes albopictus (Nyamuk Macan Asia) : Spesies ini ditemukan mengandung darah manusia. Ia adalah vektor terkenal untuk virus Dengue, Zika, dan Chikungunya.

- Aedes scapularis : Nyamuk ini bersifat generalis, artinya ia tidak pemilih. Dalam studi ini, ia terbukti menggigit manusia dan burung. Sifat ini membuatnya berbahaya karena bisa menjadi jembatan penularan penyakit dari hewan ke manusia (spillover).

- Psorophora ferox (Nyamuk Hutan Berkaki Putih) : Spesies ini dikenal agresif dan dalam penelitian ini terkonfirmasi menggigit manusia. Ps. ferox adalah vektor kompeten untuk virus Demam Kuning (Yellow Fever).

- Coquillettidia venezuelensis: Sebuah temuan unik menunjukkan nyamuk ini memakan darah amfibi dan manusia, membuktikan kemampuan adaptasi mereka yang luar biasa terhadap sumber makanan apa pun yang tersedia.

Catatan : Nyamuk seperti Psorophora ferox dan Coquillettidia fasciolata bahkan diketahui bisa terbang jauh (rata-rata 2.500 meter) untuk menemukan mangsa, sehingga mereka bisa bermigrasi dari sisa hutan ke pemukiman warga.
Faktor Lingkungan: Suhu dan Curah Hujan
Selain deforestasi, faktor iklim memainkan peran besar. Area studi di Rio de Janeiro memiliki curah hujan tinggi (rata-rata tahunan 2.400 – 2.560 mm) dan suhu hangat, yang merupakan kondisi ideal untuk perkembangbiakan populasi nyamuk. Musim panas yang diiringi hujan menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. Nyamuk menggunakan isyarat fisik seperti penglihatan, bau, panas tubuh, dan kelembapan untuk melacak inangnya. Perubahan iklim dan lingkungan dapat memengaruhi intensitas interaksi ini, membuat manusia lebih mudah dideteksi oleh vektor penyakit.
Apa Bahayanya Bagi Kita?
Perubahan perilaku makan ini membawa risiko kesehatan masyarakat yang serius. Ketika nyamuk yang biasanya menggigit hewan liar beralih ke manusia, risiko penularan Zoonosis (penyakit dari hewan ke manusia) meningkat. Penyakit yang menjadi perhatian utama meliputi:
- Arbovirus : Dengue, Zika, dan Chikungunya.
- Demam Kuning (Yellow Fever) : Vektor sylvatic (hutan) seperti Haemagogus dan Sabethes, serta Aedes dan Psorophora yang ditemukan menggigit manusia, meningkatkan risiko wabah demam kuning
Kesimpulan
Jika Anda merasa nyamuk semakin banyak, itu adalah sinyal bahwa keseimbangan lingkungan sedang terganggu. Kerusakan habitat memaksa mereka beradaptasi, dan sayangnya, kitalah target barunya. Studi ini menegaskan bahwa kesehatan manusia tidak terpisahkan dari kesehatan lingkungan. Deforestasi bukan hanya masalah hilangnya pohon, tetapi juga pemicu perubahan ekologis yang mendekatkan vektor penyakit ke rumah kita. Melindungi sisa hutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya adalah langkah krusial untuk mencegah wabah penyakit di masa depan.
Referensi
Referensi Artikel
Alves, D. C. V., Machado, S. L., Silva, J. D. S., de Almeida, N. M., Dias, R., Silva, S. O. F., & Alencar, J. (2025). Aspects of the blood meal of mosquitoes (Diptera: culicidae) during the crepuscular period in Atlantic Forest remnants of the state of Rio de Janeiro, Brazil. Frontiers in Ecology and Evolution, 14, 1721533. DOI : https://doi.org/10.3389/fevo.2025.1721533.
Referensi Gambar
- Bluma, K. (2022). Psorophora ferox [Observation]. iNaturalist. https://www.inaturalist.org/observations/314721911
- Font, R. C. (2023). Aedes albopictus [Observation]. iNaturalist. https://www.inaturalist.org/observations/175272691
- Perthuis, B. (2025a). Aedes scapularis [Observation]. iNaturalist. https://www.inaturalist.org/observations/260942910
- Perthuis, B. (2025b). Coquillettidia venezuelensis [Observation]. iNaturalist. https://www.inaturalist.org/observations/305365598
- Werle, S. (2021). Coquillettidia venezuelensis [Observation]. iNaturalist. https://www.inaturalist.org/observations/102383753
