Mesin PCR (Polymerase Chain Reaction): Prinsip Kerja, Komponen, Tahapan, dan Aplikasinya dalam Biologi Molekuler

Pandemi COVID-19 membuat istilah PCR dikenal luas oleh masyarakat sebagai metode utama untuk mendeteksi infeksi virus SARS-CoV-2. Namun, bagi banyak orang awam, PCR sering dipahami sebagai nama alat, padahal secara ilmiah PCR adalah metode atau teknik biologi molekuler. Adapun alat yang digunakan untuk menjalankan metode tersebut disebut thermal cycler atau mesin PCR. Pemahaman ini penting agar masyarakat dapat membedakan antara konsep biologis PCR dan perangkat teknologi yang mendukung prosesnya.
Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan metode untuk memperbanyak fragmen DNA secara spesifik melalui pengaturan suhu yang terkontrol. Dalam praktiknya, thermal cycler berfungsi mengatur perubahan suhu secara berulang agar reaksi biokimia dapat berlangsung sesuai tahapan yang diinginkan. Secara sederhana, PCR dapat dianalogikan sebagai proses penyalinan DNA, sementara thermal cycler bertindak sebagai mesin pengendali lingkungan reaksi.
Pada pemeriksaan COVID-19, sampel diambil dari saluran pernapasan menggunakan alat usap, kemudian diproses di laboratorium. Materi genetik virus yang berupa RNA terlebih dahulu diubah menjadi DNA, lalu diperbanyak menggunakan metode PCR. Proses ini melibatkan beberapa komponen utama, seperti tabung reaksi, enzim, primer, serta mesin thermal cycler yang memastikan setiap tahap berlangsung pada suhu yang tepat. Visualisasi alur pengambilan sampel, reaksi molekuler, hingga pembacaan hasil inilah yang sering ditampilkan dalam ilustrasi proses PCR.
Secara historis, metode PCR dikembangkan pada pertengahan 1980-an oleh Kary B. Mullis. Sebelum PCR ditemukan, analisis DNA memerlukan waktu lama dan jumlah sampel yang besar. Kehadiran PCR merevolusi biologi molekuler karena memungkinkan amplifikasi DNA dilakukan secara cepat dan efisien di luar sel. Atas penemuan ini, Mullis memperoleh Hadiah Nobel Kimia pada tahun 1993. Hingga kini, prinsip yang sama tetap digunakan, baik untuk riset genetika maupun untuk aplikasi medis modern seperti deteksi COVID-19.
Prinsip Dasar PCR
Prinsip kerja PCR didasarkan pada kemampuan enzim DNA polimerase untuk mensintesis untai DNA baru menggunakan untai DNA templat. Reaksi ini memanfaatkan sifat komplementer basa nukleotida (A–T dan G–C) serta perubahan suhu terprogram untuk mengatur setiap tahap reaksi. Berbeda dengan replikasi DNA di dalam sel yang melibatkan banyak enzim, PCR menyederhanakan proses tersebut dengan hanya menggunakan komponen esensial.
Kunci utama keberhasilan PCR adalah penggunaan DNA polimerase yang bersifat termostabil, seperti Taq polimerase yang diisolasi dari bakteri termofilik Thermus aquaticus. Enzim ini mampu bertahan pada suhu tinggi selama proses denaturasi DNA tanpa mengalami denaturasi protein [2]. Dengan demikian, satu siklus reaksi dapat diulang puluhan kali tanpa perlu menambahkan enzim baru.
Bagian Utama Mesin PCR

Sumber Gambar: Aakanchha Jain et al. 2020.
Mesin PCR dirancang untuk memastikan perubahan suhu berlangsung cepat, akurat, dan berulang. Secara umum, komponen utamanya meliputi:
- Blok termal, yaitu bagian logam berlubang tempat tabung reaksi PCR diletakkan.
- Tutup pemanas (heated lid), berfungsi mencegah penguapan dan kondensasi larutan reaksi.
- Panel kontrol, digunakan untuk mengatur suhu, waktu, dan jumlah siklus PCR.
- Sistem ventilasi, menjaga stabilitas suhu dan kinerja alat.
Komponen Reaksi PCR

Keberhasilan PCR tidak hanya ditentukan oleh mesin, tetapi juga oleh komponen reaksi yang digunakan, yaitu:
- DNA atau RNA templat, sebagai materi genetik target.
- DNA polimerase termostabil (misalnya Taq polimerase dari Thermus aquaticus).
- Primer oligonukleotida, sebagai titik awal sintesis DNA.
- dNTP (deoksiribonukleotida trifosfat), bahan baku pembentukan untai DNA.
- Buffer PCR, menjaga pH dan menyediakan ion magnesium sebagai kofaktor enzim [2], [3].
Tahapan Siklus PCR

Dalam praktik laboratorium, PCR dijalankan melalui serangkaian tahap yang terkontrol secara ketat oleh mesin thermal cycler. Protokol PCR yang lengkap umumnya terdiri atas tujuh tahap berurutan, mulai dari persiapan awal hingga tahap penahanan akhir, untuk memastikan amplifikasi DNA berlangsung optimal dan akurat.
- Pra-denaturasi (Initial Denaturation)
Tahap pra-denaturasi bertujuan membuka struktur heliks ganda DNA secara sempurna sebelum siklus PCR dimulai. Selain itu, tahap ini berfungsi mengaktivasi enzim hot-start DNA polymerase yang baru aktif pada suhu tinggi. Pra-denaturasi dilakukan pada suhu sekitar 94–95 °C selama 2–5 menit. Tahap ini sangat penting terutama ketika menggunakan DNA genom eukariotik atau templat dengan kandungan basa GC yang tinggi. - Denaturasi
Denaturasi merupakan tahap awal pada setiap siklus PCR yang berfungsi memisahkan kembali untai DNA ganda menjadi dua untai tunggal. Proses ini berlangsung pada suhu 94–95 °C selama 15–30 detik. Durasi denaturasi yang terlalu lama tidak meningkatkan hasil amplifikasi dan justru dapat merusak struktur DNA templat. - Annealing (Penempelan Primer)
Pada tahap annealing, suhu diturunkan ke kisaran 50–65 °C agar primer forward dan reverse dapat menempel secara spesifik pada sekuens target DNA. Penentuan suhu annealing umumnya dilakukan sekitar 3–5 °C di bawah nilai suhu leleh atau melting temperature (Tm) primer. Tahap ini berlangsung selama 20–40 detik. Suhu annealing yang terlalu rendah berisiko menghasilkan amplifikasi non-spesifik, sedangkan suhu yang terlalu tinggi dapat menghambat penempelan primer. - Ekstensi (Extension)
Ekstensi merupakan tahap pemanjangan rantai DNA baru oleh enzim Taq DNA polymerase. Tahap ini berlangsung pada suhu optimum enzim, yaitu sekitar 72 °C. Waktu ekstensi berkisar antara 30–60 detik untuk setiap 1 kb fragmen DNA target. Fragmen DNA yang lebih panjang memerlukan waktu ekstensi yang lebih lama agar sintesis berlangsung sempurna. - Siklus PCR
Tahapan denaturasi, annealing, dan ekstensi diulang secara berurutan sebanyak 30–35 siklus. Pengulangan ini bertujuan meningkatkan jumlah salinan DNA target secara eksponensial. Namun, jumlah siklus yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terbentuknya produk non-spesifik. - Post-ekstensi (Final Extension)
Setelah seluruh siklus PCR selesai, dilakukan tahap post-ekstensi pada suhu 72 °C selama 5–10 menit. Tahap ini bertujuan menyempurnakan seluruh produk DNA hasil amplifikasi. Selain itu, post-ekstensi berperan dalam pembentukan A-overhang pada ujung 3’ DNA, yang penting untuk keperluan kloning DNA. - Hold
Tahap terakhir adalah hold, yaitu penahanan reaksi pada suhu 4 °C. Tahap ini berfungsi menjaga stabilitas produk PCR sebelum dilakukan analisis lanjutan, seperti elektroforesis gel atau penyimpanan sementara sampel.
Dengan mengikuti tahapan lengkap ini, PCR dapat menghasilkan amplifikasi DNA yang presisi, reproducible, dan sesuai untuk berbagai aplikasi biologi molekuler.
Jenis-Jenis PCR
Seiring perkembangan teknologi, PCR memiliki berbagai varian, antara lain:
- PCR Konvensional : untuk amplifikasi DNA target.
- Real-Time PCR (qPCR) : memantau hasil amplifikasi secara kuantitatif menggunakan sinyal fluoresen.
- RT-PCR (Reverse Transcriptase PCR) : mengonversi RNA menjadi cDNA sebelum amplifikasi.
- Multiplex PCR : memperbanyak beberapa target DNA secara simultan.
- Nested PCR dan Hot Start PCR : meningkatkan spesifisitas dan sensitivitas reaksi [3].
Aplikasi PCR dalam Biologi dan Kedokteran
PCR memiliki spektrum aplikasi yang sangat luas dan lintas disiplin. Dalam bidang kedokteran, PCR digunakan sebagai alat diagnostik untuk mendeteksi patogen penyebab penyakit infeksi, termasuk virus, bakteri, dan parasit, bahkan ketika jumlahnya sangat sedikit. Teknik RT-PCR, misalnya, menjadi standar emas dalam deteksi virus RNA seperti SARS-CoV-2.
Dalam bidang biologi molekuler dan genetika, PCR digunakan untuk kloning gen, analisis mutasi, penentuan ekspresi gen, serta studi evolusi melalui perbandingan sekuens DNA. Di bidang forensik, PCR memungkinkan analisis DNA dari sampel yang sangat terbatas, seperti rambut atau bercak darah, sehingga berperan penting dalam identifikasi individu. PCR juga dimanfaatkan dalam bidang pertanian dan lingkungan, misalnya untuk mendeteksi organisme transgenik, patogen tanaman, serta mempelajari keanekaragaman mikroba lingkungan [4].
Kelebihan dan Keterbatasan PCR
Kelebihan PCR antara lain kecepatan, sensitivitas tinggi, dan kebutuhan sampel yang minimal. Namun, PCR juga memiliki keterbatasan seperti kerentanan terhadap kontaminasi, potensi kesalahan enzim polimerase, serta kebutuhan informasi sekuens target untuk desain primer [5].
Penutup
Mesin PCR merupakan contoh nyata bagaimana pemahaman mekanisme biologis dapat diterjemahkan menjadi teknologi yang berdampak luas. Dari penelitian dasar hingga aplikasi klinis dan industri, PCR menegaskan peran sentral biologi molekuler dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan manusia.
Referensi
- [1] K. Kadri, “Polymerase Chain Reaction (PCR): Principles and Applications,” IntechOpen, 2019.
- [2] D. L. Nelson and M. M. Cox, Lehninger Principles of Biochemistry, 7th ed. New York, NY, USA: W.H. Freeman, 2017.
- [3] A. Jain, R. Jain, and S. Jain, “Polymerase Chain Reaction,” in Basic Techniques in Biochemistry, Microbiology and Molecular Biology, Springer, 2020.
- [4] J. Mullis et al., “Specific enzymatic amplification of DNA in vitro,” Cold Spring Harbor Symposia on Quantitative Biology, vol. 51, pp. 263–273, 1986.
- [5] AAT Bioquest, “Limitations of PCR Technology,” 2020.
