Polusi Mikroplastik: Pendorong Tersembunyi Pemanasan Laut dan Gangguan Iklim

Sementara dunia berfokus pada emisi karbon industri, sebuah tinjauan ilmiah baru yang diterbitkan dalam Journal of Hazardous Materials: Plastics yang berjudul From Pollution to Ocean Warming: The Climate Impacts of Marine Microplastics, menyoroti ancaman iklim yang sering terabaikan: mikroplastik (MPs). Para peneliti memperingatkan bahwa polusi plastik dan gangguan iklim adalah dua tantangan besar yang saling berpotongan, di mana mikroplastik secara langsung berkontribusi pada emisi gas rumah kaca (GRK) dan merusak kemampuan laut untuk menyerap karbon.
Studi ini menekankan bahwa mikroplastik mempengaruhi proses biogeokimia laut, mengganggu pompa karbon samudra, dan bahkan mengubah albedo (daya pantul panas) Bumi.
Sabotase Pompa Karbon Biologis
Lautan adalah penyerap karbon terbesar di Bumi, sebagian besar berkat pompa karbon biologis sebuah proses di mana organisme laut memindahkan karbon dari atmosfer ke laut dalam. Studi ini menjelaskan mekanisme gangguan tersebut pada organisme kunci :
- Fitoplankton
Organisme ini bertanggung jawab atas fotosintesis dan penyerapan CO2 dari atmosfer. Mikroplastik yang mengambang dapat menghalangi penetrasi cahaya matahari, yang menghambat pertumbuhan dan efisiensi fotosintesis fitoplankton. - Zooplankton
Sebagai konsumen tingkat dasar, zooplankton memindahkan karbon ke laut dalam melalui kotoran mereka (fecal pellets). Tetapi, zooplankton sering menelan mikroplastik karena mengiranya sebagai makanan. Hal ini menyebabkan kekenyangan palsu, mengurangi asupan nutrisi, dan menghambat laju tenggelamnya kotoran pembawa karbon ke dasar laut. Hal ini berpotensi mengurangi kemampuan laut untuk menyimpan karbon hingga 27% dalam skenario tertentu.
“Di ekosistem laut, mikroplastik mengubah sekuestrasi karbon alami dengan mempengaruhi fitoplankton dan zooplankton, yang merupakan agen utama siklus karbon,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut.


Ancaman Plastisphere dan Emisi Gas Rumah Kaca
Salah satu temuan penting dalam studi ini adalah peran plastisphere, komunitas mikroba yang membentuk koloni di permukaan mikroplastik. Lapisan mikroba ini memainkan peran signifikan dalam produksi gas rumah kaca melalui aktivitas biologis yang kompleks, termasuk siklus nitrogen dan karbon. Selain aktivitas mikroba, degradasi fisik plastik itu sendiri di lingkungan melepaskan gas aktif iklim. Saat plastik terurai di bawah sinar matahari dan air, mereka melepaskan metana (CH4), etilen, dan karbon dioksida (CO2), yang berkontribusi langsung pada pemanasan global.
Mikroplastik Memperburuk Pemanasan dan Pengasaman Laut
Studi ini juga menyoroti dampak fisik mikroplastik terhadap suhu laut, diantaranya adalah :
- Penyerap Panas
Mikroplastik, terutama yang berwarna gelap, dapat menyerap radiasi matahari dan meningkatkan suhu air atau pasir di sekitarnya. Di lingkungan kutub, partikel ini dapat mengurangi albedo es dan salju, mempercepat pencairan. - Pengasaman Laut
Pencucian zat organik dan kimia dari plastik ke dalam air laut berkontribusi pada penurunan pH air laut, sebuah fenomena yang dikenal sebagai pengasaman laut (ocean acidification). Kondisi asam ini merusak organisme pembentuk cangkang seperti karang dan kerang, serta melemahkan keanekaragaman hayati laut secara keseluruhan.
Ancaman bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Penulis pada studi ini menegaskan bahwa polusi mikroplastik menghambat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, seperti :
- SDG 3 (Kesehatan) : Mikroplastik masuk ke rantai makanan dan tubuh manusia, berpotensi membawa zat beracun.
- SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) : Terganggu karena rusaknya penyerap karbon alami.
- SDG 14 (Ekosistem Laut) : Terancam oleh kerusakan habitat dan rantai makanan.
Rekomendasi: Pendekatan Terintegrasi
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa polusi mikroplastik dan perubahan iklim tidak dapat lagi ditangani secara terpisah. Mereka mendesak adanya strategi global yang holistik, termasuk pelarangan plastik sekali pakai, peningkatan teknologi daur ulang, dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk memantau jejak polusi.
Kesimpulan
Mekanisme utama yang menghubungkan mikroplastik (MPs) dengan pemanasan global dan gangguan iklim adalah terganggunya sistem pompa karbon biologis. Gangguan ini terjadi karena MPs menghambat proses fotosintesis fitoplankton serta melemahkan metabolisme zooplankton, yang keduanya berperan vital dalam penyerapan karbon. Selain itu, keberadaan plastisphere, lapisan mikroba yang tumbuh di permukaan plastik turut memengaruhi siklus nitrogen dan karbon di perairan, ditambah lagi dengan pelepasan Gas Rumah Kaca (GRK) yang terjadi selama proses degradasi mikroplastik itu sendiri.
Meskipun dampaknya kini terlihat minim, akumulasinya di masa depan mengancam akan memperparah pemanasan dan pengasaman laut. Studi ini juga menyarankan perlunya meninjau ulang kerangka kerja Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, karena indikator plastik yang ada saat ini dianggap belum memadai untuk mencakup risiko luas yang ditimbulkan terhadap sistem ekologi. Diperlukan tindakan segera dan terkoordinasi dalam tata kelola global untuk mengatasi tantangan lingkungan yang saling terkait ini.
Referensi
Nawab, A., Khan, M. T., Ihsanullah, I., Nafees, M., & Shah, A. M. (2025). From Pollution to Ocean Warming: The Climate Impacts of Marine Microplastics. Journal of Hazardous Materials: Plastics, 100032. DOI: 10.1016/j.hazmp.2025.100032.
