Diet Keto Mengurangi Lemak Hati Sebesar 67% dalam Sebuah Uji Klinis
Nasihat yang paling sering kita dengar soal kesehatan metabolik terdengar sederhana: turunkan berat badan, maka gula darah dan lemak darah akan ikut membaik. Tapi ada pertanyaan yang sudah lama menggantung di balik nasihat itu. Kalau dua orang sama-sama berhasil menurunkan 10 persen berat badannya, tapi yang satu lewat diet rendah karbohidrat dan yang lain lewat diet rendah lemak, apakah tubuh mereka membaik dengan cara yang sama?
Sebuah uji klinis acak yang terbit di jurnal Cell Metabolism pada Oktober 2026 menjawab pertanyaan itu dengan cara yang jarang bisa dilakukan: seluruh makanan peserta disiapkan oleh dapur peneliti selama berbulan-bulan (Petersen et al., 2026). Jawabannya menarik. Otot merespons ketiga pola makan dengan cara yang nyaris identik, tetapi hati memberi respons yang sangat berbeda.
Daftar Isi
- Kenapa Pertanyaan Ini Sulit Dijawab
- Cara Menguji: Semua Makanan Disediakan Peneliti
- Otot Merespons Sama, Hati Tidak
- Mesin di Balik Perbedaan: Insulin, Glukagon, dan Pabrik Lemak di Hati
- Batas Kesimpulan: Apa yang Belum Terjawab
- Penutup
Kenapa Pertanyaan Ini Sulit Dijawab
Obesitas jarang datang sendirian. Ia biasanya hadir bersama rombongan gangguan lain: pradiabetes, dislipidemia (kadar lemak darah yang tidak sehat), dan penumpukan lemak di hati yang kini disebut MASLD, singkatan dari metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease atau penyakit hati berlemak yang berkaitan dengan gangguan metabolik. Kondisi ini bukan perkara sepele, karena hati berlemak termasuk faktor risiko penting untuk penyakit kardiovaskular (Rinella et al., 2023). Akar masalahnya sama, yaitu resistensi insulin, keadaan ketika sel otot dan sel hati tidak lagi menanggapi sinyal insulin dengan baik.
Menurunkan berat badan adalah terapi utamanya, dan itu terbukti berhasil memperbaiki kerja insulin di banyak organ sekaligus. Persoalannya, para peneliti sejak lama curiga bahwa komposisi makanan juga punya efek sendiri, terlepas dari berapa kilogram yang turun. Untuk membuktikannya, kita perlu membandingkan beberapa pola makan pada penurunan berat badan yang benar-benar setara.
Di sinilah letak kesulitannya. Uji coba diet jangka panjang selalu terbentur dua masalah klasik: peserta sulit disiplin mengikuti pola makan yang ditugaskan, dan berat badan yang turun di tiap kelompok jarang sama besarnya. Studi besar seperti DIETFITS, misalnya, menemukan bahwa diet rendah lemak dan rendah karbohidrat menghasilkan penurunan berat badan yang serupa setelah 12 bulan (Gardner et al., 2018), sementara penelitian dua tahun sebelumnya menemukan selisih kecil yang cenderung menyusut seiring waktu (Shai et al., 2008). Kalau penurunan beratnya saja berbeda, kita tidak pernah tahu apakah perbaikan metabolik itu berasal dari jenis makanannya atau semata dari berat yang hilang.

Gambar 1. Ilustrasi tiga kelompok diet dalam uji klinis (sangat rendah karbohidrat/ketogenik, Mediterania, dan sangat rendah lemak berbasis nabati) yang dibandingkan pada penurunan berat badan setara 10 persen.
Cara Menguji: Semua Makanan Disediakan Peneliti
Tim peneliti dari Washington University School of Medicine mengambil jalan yang mahal tapi rapi. Sepanjang studi, peserta tidak memasak sendiri dan tidak menghitung kalori sendiri. Seluruh menu, mulai dari entrée beku 500 kkal sampai camilannya, disiapkan dapur metabolik kampus dan diantar setiap minggu, lengkap dengan pendampingan ahli gizi. Hasilnya, kepatuhan tercatat di atas 95 persen di semua kelompok (Petersen et al., 2026).
Peserta yang dianalisis berjumlah 42 orang dewasa dengan obesitas yang disertai pradiabetes dan perlemakan hati, berusia rata-rata 43 tahun dengan indeks massa tubuh rata-rata sekitar 39. Mereka diacak ke tiga pola makan dengan komposisi makronutrien yang sengaja dibuat sangat kontras. Kelompok ketogenik hanya memperoleh 4 persen energi dari karbohidrat dan 73 persen dari lemak; kelompok Mediterania mendapat 50 persen dari karbohidrat dan 35 persen dari lemak; sedangkan kelompok nabati sangat rendah lemak mendapat 70 persen energi dari karbohidrat dan hanya 15 persen dari lemak. Energi menu kemudian dikurangi bertahap sampai berat badan turun sekitar 10 persen, lalu dijaga stabil selama tiga sampai empat minggu sebelum pengukuran ulang.
Bagian yang membuat studi ini istimewa ada pada alat ukurnya. Sensitivitas insulin otot dan hati diukur dengan prosedur hyperinsulinemic-euglycemic clamp yang dipadukan pelacak glukosa berlabel isotop, teknik yang dianggap standar emas karena mengukur langsung seberapa banyak glukosa yang diserap tubuh pada kadar insulin tertentu. Lemak hati diukur dengan pencitraan resonansi magnetik, bukan sekadar ditaksir dari darah. Peserta bahkan meminum air berat (air yang mengandung deuterium) selama beberapa minggu agar peneliti bisa melacak berapa banyak lemak yang benar-benar dirakit sendiri oleh hati, sebuah proses bernama de novo lipogenesis. Ketiga kelompok akhirnya turun berat badan hampir persis sama, yaitu sekitar 10,1 sampai 10,4 persen.

Gambar 2. Diagram alur studi: dari 55 peserta yang diacak hingga 42 peserta yang menyelesaikan intervensi, beserta tahapan pengukuran sebelum dan sesudah penurunan berat badan 10 persen.
Otot Merespons Sama, Hati Tidak
Pada otot rangka, ketiga pola makan memberi hasil yang praktis tidak bisa dibedakan. Sensitivitas insulin otot naik sekitar 50 persen di semua kelompok, tanpa perbedaan bermakna antar kelompok. Ini pesan yang menenangkan sekaligus penting: untuk urusan otot, yang tampaknya paling menentukan adalah berat badan yang turun, bukan dari mana kalorinya berasal.
Hati bercerita lain. Indeks sensitivitas insulin hati meningkat dua sampai tiga kali lipat lebih besar pada kelompok ketogenik dibandingkan dua kelompok lainnya. Kandungan trigliserida di dalam hati turun 67 persen pada kelompok ketogenik, jauh melampaui penurunan 45 persen pada kelompok Mediterania maupun kelompok nabati rendah lemak. Beberapa penanda gula darah bergerak searah: hemoglobin terglikasi (HbA1c, cerminan rata-rata gula darah beberapa bulan terakhir) turun paling banyak di kelompok ketogenik, dan remisi pradiabetes tercapai pada 50 persen peserta kelompok itu, dibandingkan 29 persen pada kelompok Mediterania dan 7 persen pada kelompok nabati rendah lemak.
Ada satu temuan yang kerap dikhawatirkan orang dan ternyata tidak terbukti di studi ini. Meski 23 persen energi diet ketogenik berasal dari lemak jenuh, kadar kolesterol LDL, apolipoprotein B, dan trigliserida 24 jam tidak berbeda dibanding dua kelompok lain. Sebaliknya, kolesterol HDL justru cenderung naik pada kelompok ketogenik dan turun pada kedua kelompok lain, sementara penanda peradangan dan risiko pembekuan darah seperti PAI-1 dan TNF-alfa hanya turun bermakna di kelompok ketogenik.
Satu hal lagi yang perlu dicatat jujur: tidak semuanya membaik. Fungsi sel beta pankreas, yaitu kemampuan pankreas melepas insulin sebagai respons terhadap glukosa, tidak membaik di kelompok mana pun. Gagasan populer bahwa “mengistirahatkan” sel beta dengan membatasi karbohidrat berbulan-bulan akan memulihkan fungsinya tidak terbukti pada orang dengan pradiabetes dalam studi ini.

Gambar 3. Grafik perbandingan penurunan kandungan trigliserida hati (-67 persen versus -45 persen dan -45 persen) pada ketiga kelompok diet.
Mesin di Balik Perbedaan: Insulin, Glukagon, dan Pabrik Lemak di Hati
Untuk memahami kenapa hati bereaksi berbeda, bayangkan hati sebagai pabrik yang bisa merakit lemak sendiri dari bahan baku gula. Jalur perakitan itulah yang disebut de novo lipogenesis, dan saklar utamanya adalah hormon. Insulin dan glukosa menyalakan pabrik, glukagon mematikannya sekaligus membuka gudang lemak untuk dibakar. Ketika karbohidrat ditekan sampai hanya 4 persen energi, saklarnya bergerak serempak ke arah yang sama.
Pengukuran 24 jam dalam studi ini memperlihatkan pergeseran itu dengan gamblang. Kadar insulin darah sepanjang hari turun 74 persen pada kelompok ketogenik, jauh lebih besar daripada 44 persen dan 27 persen pada kelompok Mediterania dan nabati rendah lemak. Glukagon justru naik 52 persen pada kelompok ketogenik, padahal turun pada dua kelompok lain. Konsisten dengan itu, aktivitas de novo lipogenesis di hati anjlok paling dalam pada kelompok ketogenik, dan besarnya penurunan itu berkorelasi kuat dengan penurunan paparan insulin sepanjang hari.
Pola ini cocok dengan temuan-temuan sebelumnya. Resistensi insulin diketahui menjadi pendorong utama lipogenesis hati pada penyakit hati berlemak (Smith et al., 2020), dan diet ketogenik jangka pendek sebelumnya juga terbukti menurunkan lemak hati sekaligus mengubah metabolisme mitokondria hati (Luukkonen et al., 2020). Jadi cerita mekanistiknya masuk akal: menekan karbohidrat menurunkan insulin, insulin yang rendah mematikan pabrik lemak di hati, dan pada saat yang sama glukagon yang naik mendorong pembongkaran serta pembakaran lemak yang sudah tertimbun.
Batas Kesimpulan: Apa yang Belum Terjawab
Sebelum artikel ini dibaca sebagai anjuran, ada beberapa pagar yang dipasang sendiri oleh para penelitinya. Jumlah pesertanya kecil, hanya 14 orang per kelompok, sehingga perbedaan-perbedaan yang lebih halus bisa saja luput terdeteksi. Peserta juga bukan sembarang orang: mereka dipilih karena memiliki obesitas dengan pradiabetes dan perlemakan hati sekaligus, tanpa diabetes dan tanpa penyakit berat lain. Hasil pada kelompok yang sangat spesifik ini belum tentu berlaku untuk populasi umum.
Konteks pelaksanaannya pun tidak menyerupai kehidupan sehari-hari. Seluruh makanan disediakan gratis dan diantar, sehingga kepatuhan di atas 95 persen adalah hasil rekayasa desain, bukan gambaran realistis dari orang yang harus berbelanja dan memasak sendiri. Studi-studi jangka panjang di dunia nyata justru menunjukkan perbedaan antar pola makan cenderung menyusut seiring waktu (Gardner et al., 2018; Shai et al., 2008). Selain itu, pengukuran dilakukan pada fase penurunan berat badan, bukan fase mempertahankan berat, sehingga belum diketahui apakah keunggulan pada hati itu bertahan setelahnya.
Pertanyaan penting lain masih terbuka: apakah pembatasan karbohidrat yang lebih moderat, tanpa sampai memicu ketosis, bisa memberi manfaat serupa pada hati. Studi ini tidak dirancang untuk menjawabnya. Karena itu, temuan ini paling tepat dibaca sebagai bukti mekanistik yang kuat tentang bagaimana makronutrien memengaruhi hati, bukan sebagai resep pola makan untuk siapa pun. Keputusan tentang pola makan, apalagi bila sudah ada pradiabetes atau perlemakan hati, tetap perlu dibicarakan dengan dokter atau ahli gizi yang memeriksa langsung.

Gambar 4. Skema mekanisme: karbohidrat rendah menurunkan insulin dan menaikkan glukagon, yang menekan lipogenesis de novo serta meningkatkan pembongkaran dan oksidasi lemak di hati.
Penutup
Benang merah dari uji klinis ini cukup jelas: menurunkan berat badan tetap menjadi fondasi perbaikan metabolik, tetapi fondasi itu tidak bekerja seragam ke semua organ. Otot tampaknya hanya peduli pada berapa berat yang turun, sementara hati ikut memperhitungkan dari mana kalori itu datang. Bagi kita yang belajar biologi, ini pengingat bahwa “kalori” bukan satuan yang netral secara biologis, karena setiap makronutrien membawa sinyal hormonal yang berbeda begitu masuk ke dalam tubuh. Dan seperti biasa dalam sains, satu uji klinis yang rapi bukan kata akhir, melainkan pintu masuk untuk pertanyaan berikutnya.
Daftar Pustaka
- Gardner, C. D., Trepanowski, J. F., Del Gobbo, L. C., Hauser, M. E., Rigdon, J., Ioannidis, J. P. A., Desai, M., & King, A. C. (2018). Effect of low-fat vs low-carbohydrate diet on 12-month weight loss in overweight adults and the association with genotype pattern or insulin secretion: The DIETFITS randomized clinical trial. JAMA, 319, 667–679. https://doi.org/10.1001/jama.2018.0245
- Luukkonen, P. K., Dufour, S., Lyu, K., Zhang, X. M., Hakkarainen, A., Lehtimäki, T. E., Cline, G. W., Petersen, K. F., Shulman, G. I., & Yki-Järvinen, H. (2020). Effect of a ketogenic diet on hepatic steatosis and hepatic mitochondrial metabolism in nonalcoholic fatty liver disease. Proceedings of the National Academy of Sciences, 117, 7347–7354. https://doi.org/10.1073/pnas.1922344117
- Petersen, M. C., Smith, G. I., Farabi, S. S., Palacios, H. H., Shankaran, M., Hellerstein, M. K., Patterson, B. W., & Klein, S. (2026). Effect of diet macronutrient content on the cardiometabolic response to weight loss: A randomized clinical trial. Cell Metabolism, 38, 1–12. https://doi.org/10.1016/j.cmet.2026.07.020
- Rinella, M. E., Neuschwander-Tetri, B. A., Siddiqui, M. S., Abdelmalek, M. F., Caldwell, S., Barb, D., Kleiner, D. E., & Loomba, R. (2023). AASLD practice guidance on the clinical assessment and management of nonalcoholic fatty liver disease. Hepatology, 77, 1797–1835. https://doi.org/10.1097/HEP.0000000000000323
- Shai, I., Schwarzfuchs, D., Henkin, Y., Shahar, D. R., Witkow, S., Greenberg, I., Golan, R., Fraser, D., Bolotin, A., & Vardi, H. (2008). Weight loss with a low-carbohydrate, Mediterranean, or low-fat diet. New England Journal of Medicine, 359, 229–241. https://doi.org/10.1056/NEJMoa0708681
- Smith, G. I., Shankaran, M., Yoshino, M., Schweitzer, G. G., Chondronikola, M., Beals, J. W., Okunade, A. L., Patterson, B. W., Nyangau, E., & Field, T. (2020). Insulin resistance drives hepatic de novo lipogenesis in nonalcoholic fatty liver disease. Journal of Clinical Investigation, 130, 1453–1460. https://doi.org/10.1172/JCI134165