Perut Buncit Ditambah Kekurangan Vitamin D: Kombinasi yang Menaikkan Risiko Kematian pada Usia 50 ke Atas
Lingkar pinggang yang melebar sering dianggap sekadar urusan penampilan atau ukuran celana. Padahal lemak yang menumpuk di perut berperilaku berbeda dari lemak di paha atau lengan. Lemak perut aktif secara metabolik: ia melepaskan zat-zat yang ikut mengatur peradangan di seluruh tubuh. Karena itu, para peneliti sudah lama menaruh perhatian khusus pada ukuran pinggang, bukan hanya pada angka di timbangan.
Yang relatif baru adalah pertanyaan berikutnya: apa yang terjadi bila perut buncit bertemu dengan kadar vitamin D yang rendah? Sebuah penelitian besar terhadap lansia di Inggris yang terbit di Diabetes, Obesity and Metabolism mencoba menjawabnya, dan hasilnya cukup mengejutkan (Milliati dkk., 2026). Artikel ini membedah temuan tersebut, termasuk bagian yang sering luput diberitakan.
Daftar Isi
- Ketika Lemak Perut dan Vitamin D Saling Terkait
- Bukti dari 5.520 Lansia Inggris
- Mengapa Kombinasi Keduanya Lebih Berbahaya
- Yang Perlu Dibaca dengan Hati-hati
- Penutup
- Daftar Pustaka
Ketika Lemak Perut dan Vitamin D Saling Terkait
Obesitas abdominal, atau yang sehari-hari kita sebut perut buncit, bukan sekadar soal berat badan total. Istilah ini merujuk pada penumpukan lemak viseral, yaitu lemak yang mengisi rongga perut dan menyelimuti organ dalam. Dalam penelitian, kondisi ini diukur dengan alat paling sederhana yang ada, yaitu pita ukur. Milliati dkk. (2026) memakai batas lingkar pinggang lebih dari 102 cm untuk laki-laki dan lebih dari 88 cm untuk perempuan. Lingkar pinggang dipilih karena murah, cepat, dan sudah terbukti berkaitan dengan gangguan lemak darah, penyakit jantung, serta risiko kematian.
Gambar 1. Perbedaan letak lemak viseral (mengelilingi organ dalam) dan lemak subkutan (tepat di bawah kulit). Sumber: ilustrasi redaksi Inovasi Biologi.
Di sisi lain, kadar vitamin D dalam darah cenderung menurun seiring bertambahnya usia, dan penyebabnya bukan hanya kurang berjemur. Kulit yang menipis menyimpan lebih sedikit 7-dehidrokolesterol, yaitu bahan mentah yang diubah sinar matahari menjadi vitamin D. Jumlah reseptor vitamin D di dalam sel juga ikut berkurang, sehingga tubuh lansia lebih sulit memproduksi sekaligus mengedarkan vitamin ini ke jaringan yang membutuhkannya. Status vitamin D seseorang dinilai dari kadar 25-hidroksivitamin D atau 25(OH)D di dalam serum darah, bentuk simpanan yang paling stabil untuk diukur di laboratorium.
Kedua kondisi ini ternyata bukan dua masalah yang berdiri sendiri. Tinjauan sistematis terhadap puluhan penelitian menemukan bahwa orang dengan obesitas jauh lebih sering mengalami kekurangan vitamin D dibanding orang dengan berat badan normal (Pereira-Santos dkk., 2015). Penjelasan yang paling banyak dipakai: vitamin D bersifat larut lemak, sehingga ia mudah tersimpan di jaringan lemak. Semakin besar jaringan lemak, semakin banyak vitamin D yang terperangkap di sana dan tidak beredar bebas untuk dipakai organ lain. Analoginya mirip uang yang mengendap di deposito: jumlahnya tercatat ada, tetapi tidak bisa dipakai saat dibutuhkan.
Bukti dari 5.520 Lansia Inggris
Penelitian ini menumpang pada English Longitudinal Study of Ageing (ELSA), studi jangka panjang yang mengikuti warga Inggris berusia 50 tahun ke atas. Sebanyak 5.520 peserta dengan usia rata-rata 66 tahun diukur lingkar pinggangnya dan diperiksa kadar 25(OH)D darahnya pada 2012 sampai 2013, lalu ditelusuri status hidupnya selama enam tahun berikutnya. Kadar vitamin D dikelompokkan menjadi cukup (di atas 50 nmol/L), kurang (di atas 30 sampai 50 nmol/L), dan defisiensi (30 nmol/L atau kurang). Dari dua variabel itu terbentuk enam kelompok, mulai dari peserta berpinggang normal dengan vitamin D cukup sampai peserta berperut buncit dengan vitamin D defisiensi.
Selama enam tahun pemantauan, tercatat 419 kematian atau sekitar 7,6% dari seluruh peserta. Dibandingkan kelompok paling ideal (pinggang normal dan vitamin D cukup), kelompok dengan perut buncit sekaligus defisiensi vitamin D memiliki risiko kematian 123% lebih tinggi (Milliati dkk., 2026). Perut buncit yang disertai vitamin D cukup hanya menaikkan risiko sekitar 47%, dan bila disertai vitamin D kurang naik sekitar 50%. Dengan kata lain, perut buncit saja sudah merugikan, tetapi tambahan defisiensi vitamin D melipatgandakan kerugiannya.
Gambar 2. Perbandingan risiko kematian enam kelompok peserta studi ELSA selama enam tahun pemantauan. Sumber: diolah dari data Milliati et al. (2026).
Ada satu temuan yang justru paling menarik dan jarang dikutip. Peserta berpinggang normal tetapi kekurangan vitamin D ternyata punya risiko kematian 91% lebih tinggi, dan yang mengalami defisiensi 81% lebih tinggi. Angka itu lebih besar daripada risiko kelompok berperut buncit dengan vitamin D cukup. Artinya, pinggang ramping tidak otomatis menjadi jaminan aman bila kadar vitamin D berada di titik rendah. Semua angka tersebut sudah disesuaikan dengan puluhan faktor pengganggu seperti usia, jenis kelamin, status ekonomi, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, diabetes, kanker, dan indeks massa tubuh. Pola serupa juga pernah dilaporkan pada orang dewasa yang lebih muda di Amerika Serikat (Song dkk., 2022).
Mengapa Kombinasi Keduanya Lebih Berbahaya
Penjelasan pertama datang dari sisi lemak. Lemak viseral bukan gudang pasif, melainkan jaringan yang terus-menerus melepaskan sitokin pro-inflamasi, yaitu molekul sinyal pemicu peradangan seperti interleukin-6, faktor nekrosis tumor alfa, dan protein C-reaktif. Molekul-molekul ini menjaga tubuh dalam kondisi peradangan tingkat rendah yang berlangsung bertahun-tahun tanpa gejala. Peradangan kronis semacam itu mendorong resistensi insulin, stres oksidatif, dan gangguan fungsi mitokondria, yaitu “pembangkit listrik” di dalam sel.
Penjelasan kedua datang dari sisi vitamin D. Selain mengurus kalsium dan tulang, vitamin D berperan sebagai pengatur sistem kekebalan tubuh: ia menekan produksi sitokin pro-inflamasi dan mendukung kerja sel limfosit T regulator, sel yang bertugas meredam respons imun agar tidak berlebihan (Aranow, 2011). Ketika kadarnya defisiensi, fungsi pengereman ini melemah. Hasilnya, peradangan tingkat rendah bisa muncul bahkan pada orang yang tidak kelebihan lemak tubuh, yang sekaligus menjelaskan mengapa kelompok berpinggang normal dengan vitamin D rendah tetap berisiko.
Gambar 3. Skema mekanisme: lemak viseral memicu peradangan kronis, sementara defisiensi vitamin D melemahkan mekanisme peredamnya. Sumber: ilustrasi redaksi Inovasi Biologi.
Kedua jalur itu saling memperburuk. Lemak berlebih menahan vitamin D di jaringan adiposa sehingga ketersediaannya di darah menurun, sementara vitamin D yang menipis membuat peradangan dari lemak viseral makin sulit diredam. Tubuh lansia berada di posisi paling rentan karena massa otot yang menyusut dan respons imun yang melemah. Bayangkan mobil yang menuruni jalan curam dengan rem yang sudah aus: bukan hanya beban yang bertambah, kemampuan mengeremnya pun ikut berkurang.
Yang Perlu Dibaca dengan Hati-hati
Penelitian ini bersifat observasional, artinya peneliti mengamati apa yang terjadi tanpa mengubah kondisi peserta. Desain semacam ini sangat baik untuk menunjukkan hubungan, tetapi tidak bisa membuktikan sebab-akibat. Dari studi ini kita tidak bisa menyimpulkan bahwa meminum suplemen vitamin D akan menurunkan risiko kematian, karena hal itu hanya bisa dijawab lewat uji klinis acak. Bisa saja kadar vitamin D yang rendah merupakan penanda kondisi kesehatan yang sudah menurun, bukan penyebabnya.
Para penulisnya sendiri mencatat sejumlah keterbatasan. Pesertanya hanya lansia yang tinggal mandiri di masyarakat, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk lansia di panti atau fasilitas perawatan. Lemak perut diukur dengan pita ukur, bukan dengan pemindaian DXA atau CT yang lebih akurat, meski pilihan ini realistis untuk studi berskala ribuan orang. Menariknya, peserta yang tersingkir dari analisis karena data tidak lengkap justru berkondisi lebih buruk, sehingga risiko yang dilaporkan kemungkinan malah lebih rendah daripada kenyataannya.
Bagi pembaca Indonesia ada satu catatan tambahan. Ambang lingkar pinggang yang dipakai studi ini mengacu pada pedoman untuk populasi Barat, sedangkan sejumlah pedoman untuk populasi Asia memakai ambang yang lebih rendah karena perbedaan komposisi tubuh. Selain itu, tinggal di negara tropis tidak otomatis membebaskan seseorang dari kekurangan vitamin D, sebab kebiasaan bekerja di dalam ruangan dan penggunaan pakaian tertutup sangat memengaruhi paparan sinar matahari. Analisis global terhadap 7,9 juta peserta menunjukkan defisiensi vitamin D masih ditemukan luas di berbagai wilayah dunia (Cui dkk., 2023).
Penutup
Pesan utama studi ini sederhana: lingkar pinggang dan kadar vitamin D sebaiknya dibaca bersama, bukan sendiri-sendiri. Kombinasi perut buncit dan defisiensi vitamin D menandai kelompok lansia dengan risiko kematian tertinggi, sementara vitamin D rendah pada orang berpinggang normal pun bukan kondisi yang bisa diabaikan. Yang paling bisa dilakukan pembaca adalah mengenali status keduanya lewat pemeriksaan sederhana, lalu membicarakan hasilnya dengan tenaga kesehatan, bukan menyimpulkan sendiri kebutuhan suplemen dari angka di artikel.
Daftar Pustaka
- Aranow, C. (2011). Vitamin D and the immune system. Journal of Investigative Medicine, 59(6), 881–886. https://doi.org/10.2310/JIM.0b013e31821b8755
- Cui, A., Zhang, T., Xiao, P., Fan, Z., Wang, H., & Zhuang, Y. (2023). Global and regional prevalence of vitamin D deficiency in population-based studies from 2000 to 2022: A pooled analysis of 7.9 million participants. Frontiers in Nutrition, 10, 1070808. https://doi.org/10.3389/fnut.2023.1070808
- Milliati, J. da S., Silva, T. B. P. da, Máximo, R. de O., Luiz, M. M., Lima, S. S., Steptoe, A., Oliveira, C. de, & Alexandre, T. da S. (2026). Does the combination of abdominal obesity and vitamin D deficiency increase the risk of death in individuals aged 50 or older? Evidence from the ELSA Study. Diabetes, Obesity and Metabolism, 28(8), 6607–6617. https://doi.org/10.1111/dom.70839
- Pereira-Santos, M., Costa, P. R. F., Assis, A. M. O., Santos, C. A. S. T., & Santos, D. B. (2015). Obesity and vitamin D deficiency: A systematic review and meta-analysis. Obesity Reviews, 16(4), 341–349. https://doi.org/10.1111/obr.12239
- Song, S., Yuan, Y., Wu, X., dkk. (2022). Additive effects of obesity and vitamin D insufficiency on all-cause and cause-specific mortality. Frontiers in Nutrition, 9, 999489. https://doi.org/10.3389/fnut.2022.999489