Gen Z Mulai Merindukan Kelambatan: Dari Merpati Virtual, Jam Antik, hingga Kamera Jadul
Ditulis berdasarkan rangkuman beberapa laporan media, termasuk CNBC Indonesia, RRI, Radar Banyuwangi, detikX, dan Radar Malang, akhir Agustus 2026.

Di tengah dunia yang berlomba membuat segala sesuatu terjadi seketika, sebagian Generasi Z justru menempuh arah sebaliknya. Dari cara mereka berkirim pesan, memilih aksesori, sampai perangkat hiburan sehari-hari, muncul pola yang sama: kerinduan pada jeda, proses, dan pengalaman yang tidak bisa didapat hanya dengan satu ketukan layar.
Ketika Pesan Dikirim Lewat “Merpati”
Fenomena ini paling mencolok terlihat pada dunia aplikasi pesan instan. Alih-alih memilih WhatsApp, iMessage, atau Telegram yang mengantarkan pesan dalam hitungan detik, sebagian anak muda kini beralih ke Carrier Pidge dan Roost, dua aplikasi yang justru dirancang untuk memperlambat pengiriman pesan.
Mekanismenya unik: begitu pesan dikirim, ia tidak langsung sampai ke penerima. Sebuah “burung merpati” virtual akan “terbang” membawanya dengan kecepatan rata-rata 177 km/jam, dihitung berdasarkan jarak GPS pengirim dan penerima. Untuk penerima di kota yang sama, pesan bisa sampai dalam hitungan detik; namun jika dikirim lintas benua, penerimanya baru bisa membacanya berjam-jam bahkan berhari-hari kemudian. Ada pula risiko sekitar 0,2 persen bahwa “merpati” itu tersesat di tengah jalan sehingga pesan hilang selamanya.
Carrier Pidge dibuat oleh pengembang bernama Noah Iarrobino hanya dalam waktu sekitar tiga minggu, murni dari ide iseng membayangkan aplikasi pesan modern yang diantar burung sungguhan. Di keterangan tokonya sendiri, aplikasi ini bahkan digambarkan sebagai sesuatu yang “tidak berguna” dan tidak praktis. Namun, justru ketidakpraktisan itulah yang membuatnya digandrungi. Fitur pendukungnya pun dibuat konsisten dengan tema tersebut: daftar kontak dinamai “the flock”, arsip pesan disebut “the aviary”, dan pengguna bisa melacak “perjalanan” pesan secara real-time di peta.
Bukan hanya keisengan sesaat, sebab Roost, aplikasi lain dengan konsep serupa, dilaporkan telah menggaet sekitar 300 ribu pengguna hanya dalam beberapa minggu sejak diluncurkan. Tren ini pertama kali diangkat oleh laporan Yahoo Tech pada 28 Agustus 2026 dan sejak itu ramai dibahas ulang oleh berbagai media di Indonesia.
Yang menarik, para pengguna menyebut menunggu pesan justru mengembalikan rasa bermakna dalam berkomunikasi. Tekanan untuk membalas seketika, yang selama ini identik dengan aplikasi chat instan, menghilang begitu pengirim dan penerima sama-sama tahu bahwa pesan masih dalam “perjalanan”.
Jam Tangan Lawas Naik Daun di Kalangan Anak Muda

Kerinduan pada sesuatu yang “lambat” dan berkarakter juga terlihat di dunia fesyen, khususnya jam tangan vintage. Di kawasan Batu Tulis Raya, Jakarta Pusat, deretan toko jam lawas, salah satunya Toko Jam Amiaw yang telah berdiri sejak 1978 dan kini diteruskan oleh generasi kedua, Kelvin (27), mulai ramai dikunjungi pembeli muda berusia 22–35 tahun.
Menurut Kelvin, banyak dari mereka mencari model-model dari dekade 1950–1960-an dengan merek seperti Seiko atau Technos, dengan rentang harga sekitar Rp800 ribu hingga Rp3 juta, cukup terjangkau bagi pembeli muda yang ingin mengenal jam vintage tanpa langsung masuk kategori arloji mewah. Bagi banyak dari mereka, usia dan bekas pemakaian pada jam justru menjadi nilai tambah, bukan kekurangan: setiap goresan dianggap menyimpan cerita tersendiri.
Kelvin melihat fenomena ini sebagai bagian dari siklus mode yang berputar: apa yang dulu dianggap ketinggalan zaman, lambat laun kembali dicari. Media sosial turut mempercepat proses ini: jika dulu pemburu jam vintage harus mengenal langsung jaringan kolektor atau toko fisik, kini foto sebuah jam bisa viral di Instagram dan langsung menarik minat generasi yang bahkan lahir jauh setelah jam tersebut diproduksi. Tren ini pun direspons industri: Casio, misalnya, menghadirkan lini “Vintage” yang memadukan desain klasik dengan fitur modern seperti Bluetooth dan pelacak aktivitas.
Kembali ke Perangkat dengan Satu Fungsi Saja

Pola serupa juga muncul dalam pilihan gawai sehari-hari. Semakin banyak Gen Z yang beralih menggunakan kamera digital lawas (digicam), handycam, iPod, hingga walkman, perangkat yang hanya bisa melakukan satu hal, berbeda jauh dari ponsel pintar yang serba bisa.
Ketertarikan ini disebut bukan sekadar nostalgia, mengingat banyak dari mereka justru lahir setelah era teknologi tersebut populer. Alasan utamanya adalah keinginan mengurangi distraksi: notifikasi tanpa henti dan kebiasaan scrolling membuat smartphone berubah dari sekadar alat komunikasi menjadi hiburan yang menyita waktu sepanjang hari. Fenomena ini sejalan dengan gagasan “digital minimalism” yang dipopulerkan Cal Newport, yang pada intinya menyebut manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk selalu terhubung terus-menerus. Solusinya bukan menolak teknologi sepenuhnya, melainkan mengambil kembali kendali atas cara kita menggunakannya. Sebuah perangkat dengan fungsi terbatas, dalam kerangka ini, justru menawarkan “batasan” yang sehat.
Benang Merah: Kelambatan sebagai Kemewahan Baru
Tiga fenomena ini, aplikasi pesan bertema merpati, jam tangan lawas, dan gawai fungsi tunggal, tampak berbeda di permukaan, tetapi berakar dari kegelisahan yang sama: kelelahan terhadap budaya serba instan dan konektivitas tanpa jeda. Ketika kecepatan sudah menjadi standar di hampir semua aspek kehidupan digital, sebagian anak muda justru menemukan nilai baru pada hal-hal yang membutuhkan waktu, proses, dan kesabaran.
Bagi mereka, kelambatan bukan lagi sekadar kekurangan yang harus ditoleransi, melainkan pengalaman yang sengaja dicari, sebuah bentuk kemewahan di tengah dunia yang menuntut segalanya serba cepat.