Merancang Penelitian Biologi Berbasis Data

Modul TILDA Pertemuan 11
Teknologi Informasi dan Literasi Data · Pertemuan 11

Merancang Penelitian Biologi Berbasis Data

Perumusan pertanyaan, penelusuran data terbuka, dan penyusunan rancangan proyek

Program Studi Biologi · FMIPA Universitas Negeri Medan
Sub-CPMK 6 · Bobot Penilaian 4% · 2 SKS
Capaian Pembelajaran
Capaian pembelajaran pertemuan ini. Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa mampu:
  • Merumuskan permasalahan biologi menjadi pertanyaan penelitian yang dapat dijawab berdasarkan data
  • Menelusuri, menilai, dan menetapkan satu dataset terbuka yang layak digunakan
  • Menyusun Kartu Rancangan Proyek dengan pemanfaatan kecerdasan buatan secara transparan dan terverifikasi

Pertemuan ini menandai peralihan peran yang cukup mendasar bagi mahasiswa. Pada sepuluh pertemuan sebelumnya, materi, contoh, dan data umumnya disediakan oleh dosen, sehingga posisi mahasiswa lebih banyak sebagai penerima. Mulai pertemuan ini, mahasiswa menempati posisi sebagai perancang penelitian yang menentukan sendiri pertanyaan, menelusuri sendiri datanya, dan menyusun sendiri rancangan penyelesaiannya. Peralihan peran inilah yang menjadi inti dari Sub-CPMK 6.

Perlu ditegaskan sejak awal bahwa pertemuan ini tidak menuntut penguasaan metodologi penelitian maupun statistik inferensial. Kedua bidang tersebut akan dipelajari pada mata kuliah lain di semester berikutnya, dan ketiadaannya bukan hambatan bagi perkuliahan hari ini. Kompetensi yang dibangun di sini bersifat lebih mendasar, yaitu kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat serta menilai ketersediaan bukti untuk menjawabnya. Kemampuan tersebut justru menjadi fondasi bagi seluruh keterampilan metodologis yang akan dipelajari kemudian.

Seluruh kegiatan hari ini bermuara pada satu luaran, yaitu Kartu Rancangan Proyek yang disusun secara berkelompok. Dokumen tersebut akan menjadi dasar kerja pada tiga pertemuan berikutnya, mulai dari penyusunan alur kerja data hingga pengembangan dan presentasi produk digital. Dengan demikian, keputusan yang diambil pada pertemuan ini memiliki konsekuensi yang berlanjut sampai akhir semester. Ketelitian pada tahap awal akan sangat menentukan kelancaran tahap-tahap selanjutnya.

Visualisasi 1. Diagram alur dari Pertanyaan ke Data, Analisis, dan Temuan
Visualisasi 1Diagram alur: Pertanyaan → Data → Analisis → Temuan

1Penelitian Berawal dari Pertanyaan

Penelitian kerap dibayangkan sebagai kegiatan yang identik dengan laboratorium dan instrumen berbiaya tinggi. Pada kenyataannya, sebagian besar penelitian bermula dari hal yang jauh lebih sederhana, yaitu pengamatan atas suatu gejala yang kemudian disusul pertanyaan mengenai sebabnya. Seorang ahli ornitologi yang menyadari berkurangnya perjumpaan dengan jenis burung tertentu di wilayahnya dapat mengembangkan pengamatan tersebut menjadi program penelitian bertahun-tahun. Perbedaan antara peneliti dan pengamat awam karena itu tidak terletak pada rasa ingin tahunya, melainkan pada kesediaan menindaklanjuti rasa ingin tahu tersebut dengan bukti yang dapat diperiksa.

Bukti yang dimaksud dalam konteks ini adalah data. Data merupakan catatan sistematis mengenai suatu keadaan, baik berupa hasil penghitungan, pengukuran, maupun pengamatan yang terdokumentasi. Ketika pertanyaan penelitian dipertemukan dengan data yang relevan, yang dihasilkan bukan lagi pendapat, melainkan temuan yang dapat ditelusuri kembali oleh pihak lain. Inilah yang membedakan pernyataan “tutupan hutan kita semakin berkurang” dari pernyataan “berdasarkan data tutupan hutan periode 2015 sampai 2024, luasnya berkurang sebesar sekian persen”.

Penelitian berbasis data tidak selalu mensyaratkan pengumpulan data primer di lapangan. Saat ini tersedia sejumlah besar data biologi yang telah dikumpulkan, didokumentasikan, dan sengaja dibuka untuk penggunaan umum oleh berbagai lembaga. Pemanfaatan data sekunder semacam ini merupakan praktik yang lazim dan diakui dalam penelitian biodiversitas kontemporer. Pada pertemuan ini, mahasiswa akan berlatih memanfaatkan sumber daya tersebut sebagaimana yang dilakukan peneliti profesional.

Terdapat satu prinsip penting yang perlu dipegang sejak awal berkaitan dengan pemanfaatan data sekunder. Data yang tersedia tidak selalu sesuai dengan rancangan ideal yang dibayangkan peneliti pada tahap awal. Peneliti yang cermat tidak memaksakan rancangannya, melainkan menyesuaikan pertanyaan dengan bukti yang benar-benar tersedia. Prinsip penyesuaian ini akan muncul berulang kali sepanjang modul dan menjadi salah satu pembelajaran utama pertemuan ini.

“Yang membedakan peneliti bukanlah besarnya rasa ingin tahu, melainkan kesediaan menindaklanjutinya dengan bukti.”
Poin Penting
  • Penelitian berawal dari pertanyaan, bukan dari ketersediaan instrumen atau fasilitas laboratorium.
  • Data berfungsi sebagai bukti yang mengubah pendapat menjadi temuan yang dapat diverifikasi.
  • Pemanfaatan data sekunder terbuka merupakan praktik yang lazim dalam penelitian biodiversitas.
  • Ketersediaan data turut membentuk pertanyaan penelitian, bukan sebaliknya.
Studi Kasus Mini
Dari keluhan menjadi pertanyaan yang dapat diperiksa

Seorang mahasiswa semester pertama menyampaikan pengamatannya bahwa jenis burung yang dahulu umum dijumpai di lingkungan tempat tinggalnya kini semakin jarang terdengar. Pengamatan tersebut awalnya disampaikan sebagai keluhan dalam percakapan kelas, dan sejumlah rekan menanggapinya dengan pengalaman serupa dari daerah masing-masing. Seorang rekan kemudian mengajukan pertanyaan sederhana mengenai ada tidaknya data yang mendukung pengamatan tersebut. Pertanyaan itu mengubah arah pembicaraan secara mendasar.

Penelusuran singkat yang dilakukan malam harinya menunjukkan bahwa catatan pengamatan burung dari berbagai wilayah ternyata tersedia secara terbuka. Pada titik tersebut belum ada jawaban yang diperoleh, dan mahasiswa yang bersangkutan bahkan belum memahami cara membaca datanya. Meskipun demikian, telah terjadi satu perubahan yang menentukan, yaitu keluhan berubah bentuk menjadi pertanyaan yang dapat diperiksa dengan bukti. Perubahan inilah yang menjadi langkah pertama dari keseluruhan proses penelitian.

2Merumuskan Pertanyaan Penelitian

Tidak seluruh pertanyaan dapat dijawab menggunakan data, dan pemahaman atas batasan ini akan menghemat banyak waktu. Pertanyaan seperti “apakah alih fungsi hutan dapat dibenarkan?” merupakan pertanyaan normatif yang jawabannya bergantung pada nilai yang dianut. Sebaliknya, pertanyaan seperti “berapa luas tutupan hutan yang berkurang di Sumatera Utara selama sepuluh tahun terakhir?” merupakan pertanyaan empiris yang dapat dijawab dengan data. Pertanyaan bertipe kedua inilah yang menjadi sasaran latihan pada pertemuan ini.

Terdapat empat bentuk pertanyaan empiris yang paling sesuai bagi peneliti pemula. Pertanyaan mengenai jumlah menanyakan berapa banyak suatu objek tercatat, sedangkan pertanyaan mengenai sebaran menanyakan di mana objek tersebut ditemukan. Pertanyaan mengenai kecenderungan waktu menanyakan bagaimana suatu keadaan berubah dari tahun ke tahun, dan pertanyaan mengenai perbandingan menanyakan perbedaan antara dua kelompok atau dua wilayah. Keempat bentuk tersebut dapat dijawab melalui penghitungan dan penyajian grafik tanpa memerlukan uji statistik inferensial.

Perlu ditekankan bahwa pertanyaan deskriptif semacam itu bukan pertanyaan berkategori rendah. Kajian terhadap 501 artikel yang memanfaatkan basis data biodiversitas terbuka menunjukkan bahwa penggunaan paling umum adalah memperkirakan sebaran dan kekayaan spesies, menyusun kompilasi dan publikasi data, serta mengembangkan daftar spesies atau mendeskripsikan spesies baru (Ball-Damerow dkk., 2019). Dengan demikian, pertanyaan mengenai sebaran dan jumlah justru merupakan tulang punggung penelitian biodiversitas yang terbit pada jurnal internasional. Mahasiswa karena itu tidak perlu merasa bahwa pertanyaan sederhana merupakan pilihan yang kurang bernilai.

Untuk menilai mutu suatu pertanyaan penelitian, literatur metodologi menyediakan sejumlah kriteria. Salah satu yang banyak dirujuk adalah akronim FINERMAPS yang merangkum sifat-sifat yang sebaiknya dimiliki sebuah pertanyaan penelitian (Ratan dkk., 2019). Daftar lengkapnya memuat sepuluh sifat dan sebagian di antaranya ditujukan bagi peneliti profesional yang berorientasi publikasi. Untuk keperluan pertemuan ini, empat sifat pertama telah memadai sebagai alat penilaian.

Tabel 1. Empat kriteria pertanyaan penelitian, diadaptasi dari akronim FINERMAPS (Ratan dkk., 2019)
KriteriaPengertianCara pengujian
Feasible
(dapat dilaksanakan)
Data tersedia dan waktu yang dimiliki mencukupiApakah datanya sudah ditemukan? Apabila belum, pertanyaan tersebut masih bersifat gagasan.
Interesting
(menarik)
Kelompok memiliki ketertarikan yang memadaiKetertarikan yang rendah pada tahap awal akan menyulitkan kelompok hingga pertemuan 14.
Novel
(mengandung kebaruan)
Belum pernah dijawab dalam rumusan yang samaLakukan penelusuran pendahuluan. Apabila telah ada, ubah wilayah, periode, atau objek pembandingnya.
Relevant
(bermanfaat)
Jawabannya memiliki nilai guna bagi pihak tertentuSebutkan sekurang-kurangnya satu pihak nyata yang memerlukan jawaban tersebut.
Visualisasi 2. Perbandingan pertanyaan normatif dan pertanyaan empiris
Visualisasi 2Perbandingan pertanyaan normatif dan pertanyaan empiris
Tips dan Trik
  • Rumuskan pertanyaan dalam satu kalimat. Apabila diperlukan dua kalimat, kemungkinan besar terdapat dua pertanyaan yang berbeda.
  • Cantumkan objek, wilayah, dan periode secara eksplisit. Rumusan “burung di Sumatera Utara periode 2000 sampai 2024” jauh lebih operasional daripada sekadar “burung”.
  • Hindari penggunaan istilah “pengaruh” dan “hubungan” pada tahap ini, karena keduanya menuntut uji statistik yang belum dipelajari.
  • Utamakan cakupan yang terbatas. Pertanyaan sempit yang terselesaikan lebih bernilai daripada pertanyaan luas yang tidak tuntas.
“Pertanyaan yang terlalu luas umumnya bukan tanda ambisi ilmiah, melainkan tanda bahwa batas persoalannya belum dipahami.”
Poin Penting
  • Pertanyaan penelitian yang baik bersifat spesifik, terbatas, dan dapat diverifikasi dengan data.
  • Empat bentuk yang sesuai bagi pemula: jumlah, sebaran, kecenderungan waktu, dan perbandingan.
  • Gunakan empat kriteria: dapat dilaksanakan, menarik, mengandung kebaruan, dan bermanfaat.
  • Pertanyaan deskriptif merupakan bentuk dominan dalam penelitian biodiversitas, bukan bentuk yang bernilai rendah.
Studi Kasus Mini
Penyempitan cakupan sebagai keputusan metodologis

Salah satu kelompok mengajukan rumusan awal berupa “Bagaimana pengaruh perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati Indonesia?”. Rumusan tersebut terdengar berbobot dan membuat seluruh anggota merasa yakin dengan pilihannya. Namun ketika ditanyakan data apa yang akan digunakan untuk menjawabnya, tidak ada anggota yang dapat memberikan jawaban. Rumusan itu ternyata terlalu luas untuk diselesaikan dalam satu semester, bahkan bagi tim peneliti profesional sekalipun.

Melalui diskusi bimbingan, rumusan tersebut dipersempit menjadi “Bagaimana kecenderungan jumlah rekaman perjumpaan kupu-kupu di Sumatera Utara pada periode 2000 sampai 2024?”. Rumusan baru ini tampak lebih sederhana, tetapi memiliki keunggulan yang menentukan, yaitu datanya tersedia, periodenya tegas, dan hasilnya dapat disajikan dalam satu grafik. Penyempitan cakupan dengan demikian bukan bentuk penurunan mutu, melainkan keputusan metodologis yang tepat. Pertanyaan berskala besar dapat dikembangkan kemudian setelah pertanyaan kecil terselesaikan dengan baik.

3Penelusuran Data Terbuka

Sejumlah lembaga nasional maupun internasional mengumpulkan data biologi dan membukanya bagi penggunaan umum. Akses terhadap data tersebut umumnya tidak memerlukan izin khusus, tidak dipungut biaya, dan tidak mensyaratkan afiliasi kelembagaan tertentu. Yang diperlukan hanyalah akses internet, ketelitian dalam menelusuri, serta pemahaman mengenai portal mana yang sesuai dengan kebutuhan. Bagian ini memperkenalkan tiga portal yang paling sesuai untuk tahap awal.

Pembatasan pada tiga portal dilakukan secara sengaja agar penelusuran tetap terarah. Ketiganya telah memadai untuk menjawab seluruh klaster tema yang dibagikan kepada delapan kelompok. Portal lain dapat dijelajahi kemudian, dan hal tersebut akan terasa mudah karena pola penelusurannya serupa. Penguasaan mendalam atas satu portal lebih bermanfaat daripada pengenalan sepintas atas banyak portal.

Tabel 2. Tiga portal data terbuka yang digunakan pada pertemuan ini
PortalCakupan dataJenis pertanyaan yang sesuai
GBIF
gbif.org
Rekaman perjumpaan spesies dari seluruh dunia, memuat nama takson, tanggal, dan lokasi Spesies yang pernah tercatat pada suatu wilayah, serta kecenderungan jumlah rekaman antarwaktu
BPS
bps.go.id
Statistik resmi Indonesia bidang pertanian, perikanan, kehutanan, kependudukan, dan kesehatan Perubahan produksi komoditas antarwaktu, serta perbandingan capaian antarkabupaten
Satu Data Indonesia
data.go.id
Himpunan data dari berbagai kementerian dan pemerintah daerah dalam satu pintu akses Sebaran kasus antarprovinsi, serta perubahan luas kawasan lindung antarperiode

Volume data yang tersedia pada portal tersebut tergolong sangat besar. GBIF tercatat berkembang dari sedikit di atas 200 juta rekaman pada tahun 2010 menjadi lebih dari 1,08 miliar rekaman, yaitu peningkatan lebih dari lima kali lipat dalam kurun kurang dari satu dasawarsa (Ball-Damerow dkk., 2019). Kajian lain mencatat bahwa data yang tersedia melalui GBIF meningkat dua belas kali lipat sejak tahun 2007, dan pada tahun 2019 terbit rata-rata sekitar dua publikasi ilmiah per hari yang memanfaatkan data tersebut (Heberling dkk., 2021). Sumber daya yang akan digunakan mahasiswa pada pertemuan ini dengan demikian merupakan sumber daya yang sama dengan yang dimanfaatkan komunitas ilmiah internasional.

Visualisasi 3. Peta tiga portal data terbuka
Visualisasi 3Peta tiga portal data terbuka
Visualisasi 4. Grafik pertumbuhan volume data GBIF
Visualisasi 4Grafik pertumbuhan volume data GBIF

Strategi penelusuran

Penelusuran tanpa perencanaan akan menghasilkan keluaran yang sangat besar dan sulit dikelola. Langkah awal yang disarankan adalah menetapkan tiga kata kunci terlebih dahulu, yaitu objek yang dicari, wilayah, dan periode. Setelah itu barulah portal dibuka dan fasilitas penyaringan digunakan, yang pada umumnya tersedia di sisi kiri halaman. Fasilitas penyaringan merupakan instrumen terpenting dalam penelusuran, karena tanpanya pengguna akan berhadapan dengan jutaan baris yang sebagian besar tidak relevan.

Setelah kandidat ditemukan, penetapan sebaiknya tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Kelompok dianjurkan mengumpulkan dua sampai tiga kandidat dataset sebagai bahan pembanding. Tidak jarang kandidat kedua ternyata lebih lengkap, lebih mutakhir, atau lebih mudah diolah dibandingkan kandidat pertama. Kebiasaan membandingkan beberapa alternatif merupakan praktik baku dalam penelitian yang sebaiknya dibiasakan sejak awal.

Tips dan Trik
  • Gunakan nama ilmiah apabila memungkinkan, karena nama lokal kerap berbeda antarwilayah.
  • Terapkan penyaring wilayah dan rentang tahun sejak awal penelusuran.
  • Unduh dalam format CSV karena dapat dibuka baik oleh Excel maupun Google Sheets.
  • Catat tautan dan tanggal unduh segera setelah pengunduhan, karena isi portal dapat berubah sewaktu-waktu.
  • Apabila ukuran berkas terlalu besar untuk diolah, persempit kembali cakupan wilayah atau periodenya.
Poin Penting
  • Tiga portal utama pada pertemuan ini: GBIF, BPS, dan Satu Data Indonesia.
  • Data terbuka yang digunakan merupakan sumber daya yang sama dengan yang dimanfaatkan peneliti internasional.
  • Tetapkan objek, wilayah, dan periode sebelum membuka portal agar penelusuran terarah.
  • Himpun dua sampai tiga kandidat sebelum menetapkan dataset utama.
Studi Kasus Mini
Penyaringan sejak awal sebagai penghematan sumber daya

Salah satu kelompok mengunduh seluruh rekaman perjumpaan burung se-Indonesia tanpa menerapkan penyaring apa pun. Berkas yang dihasilkan berukuran sangat besar sehingga perangkat yang digunakan tidak sanggup membukanya dalam waktu wajar. Kelompok tersebut sempat menyimpulkan bahwa data terbuka tidak sesuai untuk dikerjakan dengan perangkat mahasiswa. Kesimpulan itu keliru, karena persoalannya terletak pada strategi pengambilan, bukan pada datanya.

Penelusuran kemudian diulang dengan menerapkan penyaring provinsi Sumatera Utara dan rentang tahun 2010 sampai 2024. Berkas yang dihasilkan jauh lebih ringkas, dapat dibuka dalam hitungan detik, dan justru lebih relevan dengan pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan. Pengalaman tersebut menegaskan satu prinsip penting, yaitu penyaringan pada tahap pengambilan jauh lebih efisien daripada pembersihan pada tahap pengolahan. Kelompok ini selanjutnya menjadikan penyaringan sebagai langkah baku sebelum setiap pengunduhan.

4Penilaian Kelayakan Dataset

Terdapat satu anggapan keliru yang perlu diluruskan sejak awal. Banyak pengguna pemula beranggapan bahwa data yang telah dipublikasikan pada portal resmi pasti bersih, lengkap, dan siap dianalisis. Kenyataannya, data empiris selalu mengandung ketidaksempurnaan, dan justru ketidaksempurnaan itulah yang menandai keasliannya. Literatur pendidikan sains menyebut sifat tersebut sebagai karakteristik data autentik, yang terwujud dalam bentuk keragaman, nilai pencilan, nilai yang hilang, serta kecenderungan yang tidak terduga (Kjelvik & Schultheis, 2019).

Ketidaksempurnaan tersebut bukan alasan untuk menghindari data empiris. Sebaliknya, pengalaman belajar literasi data yang paling kuat justru muncul ketika mahasiswa bekerja dengan data autentik dari penelitian sungguhan, bukan dengan data buatan yang telah dirapikan pengajar (Kjelvik & Schultheis, 2019). Data yang terlalu ideal tidak menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi kondisi penelitian yang sebenarnya. Pertemuan ini karena itu langsung menggunakan data empiris, dengan daftar periksa sebagai instrumen pengaman.

Visualisasi 5. Perbandingan data mentah dan data terstandardisasi
Visualisasi 5Perbandingan data mentah dan data terstandardisasi

Tiga sumber ketidaksempurnaan yang utama

Sumber ketidaksempurnaan yang pertama adalah kesalahan identifikasi takson. Perkiraan tingkat kesalahan identifikasi pada koleksi spesimen berkisar antara 5 sampai 60 persen bergantung pada kelompok taksonomi yang ditinjau (Ball-Damerow dkk., 2019). Rentang yang sangat lebar tersebut merupakan pesan tersendiri, yaitu ketepatan nama takson pada suatu dataset tidak dapat diasumsikan begitu saja. Untuk keperluan pertemuan ini, mahasiswa cukup menyadari keberadaannya dan mencantumkannya sebagai keterbatasan dalam laporan.

Sumber kedua adalah informasi lokasi yang tidak lengkap atau tidak akurat. Penelitian yang menghimpun sekitar 170.000 rekaman burung Galliformes menemukan bahwa 86 persen di antaranya memiliki sekurang-kurangnya perkiraan tanggal dan lokasi (Boakes dkk., 2010). Angka tersebut tergolong tinggi, tetapi sekaligus berarti bahwa terdapat sebagian rekaman yang asal-usulnya tidak dapat dipastikan. Penelitian yang sama mencatat bahwa sekitar 10 persen dari keseluruhan upaya pengumpulan data dicurahkan hanya untuk menelusuri dan membakukan informasi lokasi.

Sumber ketiga merupakan yang paling sulit dikenali, yaitu bias pengumpulan. Seluruh basis data sebaran spesies mengandung bias spasial karena upaya pengambilan sampel tidak pernah merata, dan bias tersebut sangat menonjol pada GBIF akibat perbedaan pendanaan serta kebijakan berbagi data antarnegara (Beck dkk., 2014). Konsekuensinya, peta titik yang tersaji sesungguhnya merupakan peta intensitas pengamatan, bukan peta sebaran spesies yang sebenarnya. Wilayah yang tampak kosong pada peta belum tentu tidak dihuni, melainkan dapat berarti belum pernah ada pengamat yang melakukan pencatatan di sana.

“Peta titik perjumpaan lebih menggambarkan sebaran upaya pengamatan daripada sebaran spesies itu sendiri.”
Visualisasi 6. Ilustrasi bias spasial pada data perjumpaan
Visualisasi 6Ilustrasi bias spasial pada data perjumpaan

Temuan yang paling relevan dari kajian bias tersebut justru bersifat menenangkan bagi peneliti pemula. Ketika data dengan bias spasial yang lebih rendah digunakan untuk membangun model sebaran, hasilnya lebih baik meskipun jumlah datanya lebih sedikit (Beck dkk., 2014). Dengan kata lain, data yang lebih terbatas namun representatif dapat mengungguli data yang berlimpah namun timpang. Implikasinya bagi kelompok cukup jelas, yaitu tidak perlu mengejar dataset dengan jumlah rekaman terbesar.

Terdapat satu kategori sumber data yang perlu dikenali secara khusus, yaitu sains warga. Sebagian besar rekaman pada GBIF berasal dari pengamat sukarela yang mendokumentasikan dan melaporkan temuannya melalui aplikasi daring. Sains warga menghasilkan himpunan data yang besar dan berjangka panjang, namun potensi galat dan biasnya belum sepenuhnya dipahami, sehingga paling tepat diposisikan sebagai pelengkap bagi penelitian yang lebih terarah dan berbasis hipotesis (Dickinson dkk., 2010). Data semacam ini tetap bernilai tinggi sepanjang asal-usulnya dinyatakan secara transparan.

Lima Kriteria Penilaian Kelayakan Dataset
  • Relevansi. Apakah dataset ini benar-benar dapat menjawab pertanyaan penelitian kelompok?
  • Kecukupan. Apakah jumlah rekamannya memadai dan variabel yang dibutuhkan tersedia?
  • Konsistensi. Seberapa banyak terdapat sel kosong, rekaman duplikat, atau format penulisan yang tidak seragam?
  • Legalitas. Apakah lisensinya mengizinkan penggunaan, dan bagaimana ketentuan pencantuman sumbernya?
  • Keterolahan. Apakah formatnya dapat dibuka dan diolah dengan perangkat yang dimiliki kelompok?
Visualisasi 7. Diagram alur keputusan penilaian kelayakan
Visualisasi 7Diagram alur keputusan penilaian kelayakan

Perhatikan arah aliran cabang “Tidak” pada diagram tersebut. Cabang itu tidak bermuara pada kegagalan, melainkan kembali pada perumusan pertanyaan penelitian. Inilah prinsip pokok pertemuan ini, yaitu dalam penelitian berbasis data sekunder, rumusan pertanyaan menyesuaikan diri terhadap ketersediaan bukti. Memaksakan pertanyaan yang tidak didukung data hanya akan menghambat kelompok hingga tahap pengembangan produk.

“Ketika data yang dibutuhkan tidak tersedia, yang perlu ditinjau ulang adalah rumusan pertanyaannya.”
Poin Penting
  • Data empiris selalu mengandung ketidaksempurnaan, dan hal tersebut merupakan sifat wajar.
  • Tiga sumber utama: kesalahan identifikasi, informasi lokasi yang tidak lengkap, dan bias pengumpulan.
  • Data terbatas namun representatif dapat mengungguli data berlimpah yang timpang.
  • Terapkan lima kriteria kelayakan sebelum menetapkan dataset utama.
  • Ketidaklayakan data berarti perumusan ulang pertanyaan, bukan penghentian kegiatan.
Studi Kasus Mini
Menafsirkan pola sebaran secara berhati-hati

Salah satu kelompok mengunduh rekaman perjumpaan satu jenis kupu-kupu di Sumatera Utara lalu memetakannya. Hasil pemetaan memperlihatkan penumpukan titik yang rapat di sekitar Medan dan Berastagi, sementara wilayah pantai barat nyaris kosong. Kelompok tersebut hampir menyimpulkan bahwa jenis kupu-kupu itu hanya menghuni dataran tinggi di sekitar pusat permukiman. Seorang anggota kemudian mempertanyakan apakah pernah dilakukan pengamatan di wilayah pantai barat.

Pertanyaan tersebut mengubah arah analisis secara keseluruhan. Penelusuran lanjutan menunjukkan bahwa hampir seluruh rekaman berasal dari kegiatan pengamatan yang memang terpusat pada kedua lokasi tersebut. Simpulan akhirnya dirumuskan ulang menjadi pernyataan bahwa rekaman terkonsentrasi pada dua wilayah karena di sanalah pengamatan paling intensif dilakukan. Kelompok ini kehilangan satu simpulan yang tampak menarik, tetapi memperoleh ketepatan penafsiran yang jauh lebih bernilai secara ilmiah.

5Pemanfaatan Kecerdasan Buatan secara Etis

Kedudukan kecerdasan buatan generatif dalam mata kuliah ini perlu dinyatakan secara tegas. Pemanfaatannya diperkenankan, dan kebijakan tersebut memiliki dasar argumentatif yang jelas. Kajian etika penelitian mengemukakan bahwa pelarangan menyeluruh terhadap penggunaan model bahasa besar bukan respons yang memadai, karena larangan semacam itu sulit ditegakkan dan justru mendorong penggunaan yang tidak diungkapkan (Hosseini dkk., 2023). Yang dituntut karena itu bukan penghindaran, melainkan transparansi.

Kajian yang sama mengemukakan pertimbangan lain yang relevan. Model bahasa besar dapat berperan penting bagi peneliti yang penguasaan bahasa Inggrisnya belum memadai, sehingga pemanfaatannya berpotensi mendorong pemerataan kesempatan dalam dunia ilmu (Hosseini dkk., 2023). Bagi mahasiswa tahun pertama, alat bantu semacam ini juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran mandiri yang tersedia setiap saat. Permasalahan pokoknya karena itu tidak terletak pada penggunaannya, melainkan pada cara penggunaannya.

Terdapat satu risiko yang wajib dipahami sebelum memanfaatkan kecerdasan buatan untuk keperluan kepustakaan. Model bahasa besar dapat menghasilkan daftar pustaka yang tersusun rapi namun sebagian entrinya tidak pernah ada, lengkap dengan nama penulis, judul, nama jurnal, dan nomor DOI yang seluruhnya tampak meyakinkan. Gejala tersebut telah terdokumentasi dalam kajian mengenai sitasi yang dihasilkan ChatGPT. Oleh karena itu berlaku satu ketentuan mutlak dalam mata kuliah ini, yaitu setiap rujukan wajib ditelusuri dan dibuka sendiri sebelum dicantumkan.

Visualisasi 8. Ilustrasi sitasi terverifikasi dan sitasi fiktif
Visualisasi 8Ilustrasi sitasi terverifikasi dan sitasi fiktif

Tiga ketentuan pemanfaatan

Ketentuan pertama menyatakan bahwa kecerdasan buatan boleh membantu proses berpikir, tetapi tidak menggantikannya. Kelompok diperkenankan meminta alternatif rumusan pertanyaan penelitian sebagai bahan curah gagasan, karena hal tersebut mempercepat tahap awal. Namun keputusan penetapan harus lahir dari diskusi kelompok dan disertai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketidakmampuan menjelaskan dasar pemilihan menunjukkan bahwa ketentuan ini belum dipenuhi.

Ketentuan kedua menyatakan bahwa setiap keluaran kecerdasan buatan wajib diverifikasi. Angka harus diperiksa terhadap sumber aslinya, rujukan harus dibuka satu per satu, dan pernyataan ilmiah harus dibandingkan dengan artikel atau buku. Verifikasi tersebut bukan formalitas administratif, melainkan bagian dari pekerjaan yang dinilai. Kecerdasan buatan sebaiknya diposisikan sebagai sumber yang perlu dikonfirmasi, bukan sebagai otoritas yang dapat langsung dikutip.

Ketentuan ketiga menyatakan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan wajib dilaporkan. Rekomendasi dalam literatur etika penelitian menyebutkan tiga hal, yaitu mengungkapkan penggunaan beserta prompt dan bagian teks yang terpengaruh, mencantumkan sitasi dalam teks beserta daftar pustakanya, serta menyertakan rekaman interaksi sebagai lampiran (Hosseini dkk., 2023). Dalam mata kuliah ini, ketiganya diwujudkan dalam bentuk Log AI yang dilampirkan bersama Kartu Rancangan Proyek. Pelaporan tidak mengurangi penilaian sama sekali, sedangkan penyembunyian merupakan pelanggaran integritas akademik.

Tabel 3. Format Log AI yang dilampirkan bersama Kartu Rancangan Proyek
PermintaanKeluaranHasil verifikasiKeputusan
Sepuluh alternatif pertanyaan penelitian mengenai burung di Sumatera Utara Diperoleh sepuluh alternatif, tiga di antaranya dinilai potensial Dua alternatif tidak didukung ketersediaan data pada GBIF Menetapkan alternatif ketujuh dengan penyempitan periode
Tiga rujukan mengenai bias data biodiversitas Diperoleh tiga rujukan lengkap dengan nomor DOI Satu nomor DOI tidak berfungsi dan judulnya tidak ditemukan Menggugurkan rujukan tersebut dan menelusuri penggantinya secara mandiri
“Tanggung jawab akademik atas sebuah naskah tetap berada pada penulisnya, bukan pada perangkat yang membantunya.”
Poin Penting
  • Pemanfaatan kecerdasan buatan diperkenankan, karena pelarangan menyeluruh tidak efektif dan mendorong penyembunyian.
  • Model bahasa besar dapat menghasilkan sitasi fiktif yang tampak lengkap, sehingga setiap rujukan wajib ditelusuri sendiri.
  • Tiga ketentuan: membantu berpikir, wajib diverifikasi, dan wajib dilaporkan.
  • Pelaporan tidak mengurangi penilaian, sedangkan penyembunyian merupakan pelanggaran integritas akademik.
Studi Kasus Mini
Konsekuensi mengutip tanpa verifikasi

Salah satu kelompok meminta kecerdasan buatan menyusunkan sepuluh rujukan untuk bagian latar belakang. Keluaran yang diperoleh tersusun rapi dalam format APA, lengkap dengan nama jurnal bereputasi dan nomor DOI. Kelompok tersebut menyalinnya secara langsung dan menganggap pekerjaan kepustakaan telah terselesaikan. Pada tahap pemeriksaan, empat dari sepuluh rujukan tersebut ternyata tidak dapat ditemukan pada basis data mana pun.

Ketua kelompok semula menduga bahwa artikel tersebut berbayar sehingga sulit diakses. Penelusuran bersama kemudian menunjukkan bahwa nomor DOI-nya memang tidak mengarah pada terbitan apa pun dan judulnya tidak pernah ada. Kelompok tersebut akhirnya melakukan penelusuran ulang secara mandiri dan memperoleh enam rujukan sahih yang justru lebih sesuai dengan temanya. Pengalaman itu menghasilkan satu kebiasaan baru, yaitu setiap tautan diperiksa terlebih dahulu sebelum dicantumkan.

6Penyusunan Kartu Rancangan Proyek

Seluruh kegiatan pada pertemuan ini bermuara pada satu dokumen bernama Kartu Rancangan Proyek. Dokumen tersebut bukan proposal penelitian lengkap, dan memang tidak dirancang untuk itu. Panjangnya cukup satu sampai dua halaman, karena tujuannya adalah memastikan arah kerja kelompok telah jelas sebelum tahap berikutnya dimulai. Dokumen ini berfungsi sebagai kerangka acuan awal, bukan sebagai laporan hasil.

Kartu Rancangan Proyek menjadi bahan dasar bagi tiga pertemuan berikutnya. Pada pertemuan 12 kelompok menyusun alur kerja pengelolaan data berdasarkan dataset yang telah ditetapkan hari ini. Pada pertemuan 13 kelompok mulai mengembangkan produk digitalnya, dan pada pertemuan 14 produk tersebut dipresentasikan. Keputusan yang diambil pada pertemuan ini karena itu memiliki konsekuensi yang berlanjut hingga akhir semester.

Visualisasi 9. Struktur Kartu Rancangan Proyek
Visualisasi 9Struktur Kartu Rancangan Proyek

Delapan komponen wajib

  1. Judul sementara. Masih dapat direvisi pada tahap berikutnya, tetapi harus sudah dirumuskan.
  2. Latar belakang. Satu paragraf yang menjelaskan dasar pemilihan permasalahan.
  3. Pertanyaan penelitian. Satu kalimat, spesifik, dan telah memenuhi empat kriteria pada Tabel 1.
  4. Manfaat. Pihak yang memperoleh nilai guna dari jawaban tersebut, sekurang-kurangnya satu pihak nyata.
  5. Kartu dataset. Nama dataset, tautan, penyedia, lisensi, format, jumlah rekaman, dan tanggal unduh.
  6. Hasil penilaian kelayakan. Termasuk kandidat yang digugurkan beserta alasan penggugurannya.
  7. Rencana luaran. Bentuk produk digital yang direncanakan, misalnya infografis atau himpunan grafik.
  8. Daftar rujukan dan Log AI. Sekurang-kurangnya tiga rujukan dalam format APA edisi ketujuh yang telah diverifikasi.

Klaster tema dan pembagian kelompok

Untuk menghindari tumpang tindih tema di antara delapan kelompok, setiap kelompok memperoleh satu klaster. Di dalam klaster tersebut kelompok tetap bebas menentukan rumusan pertanyaannya sendiri, sehingga ruang kreativitas tetap terbuka lebar. Pembagian klaster dilakukan pada awal sesi melalui undian yang dikoordinasi komisaris kelas. Pertukaran klaster antarkelompok diperkenankan sepanjang kedua kelompok menyepakatinya.

Tabel 4. Delapan klaster tema beserta portal data yang disarankan
KlpKlaster temaPortal yang disarankan
1Burung dan satwa di Sumatera UtaraGBIF
2Tumbuhan dan flora lokalGBIF
3Serangga dan organisme penyerbukGBIF
4Penyakit yang berkaitan dengan faktor lingkunganBPS, Satu Data Indonesia
5Pangan dan pertanianBPS
6Kehutanan dan tutupan lahanSatu Data Indonesia, BPS
7Perikanan dan ekosistem perairanBPS, Satu Data Indonesia
8Keanekaragaman hayati di lingkungan kampusGBIF, dilengkapi pengamatan mandiri

Pembagian peran dalam kelompok

Kegagalan kerja kelompok pada umumnya tidak disebabkan oleh rendahnya motivasi anggota, melainkan oleh tidak adanya penanggung jawab yang jelas untuk setiap bagian pekerjaan. Setiap kelompok karena itu diwajibkan membagi lima peran sejak pertemuan ini. Pembagian peran tersebut berlaku hingga pertemuan 14 dan akan diminta sebagai bukti kontribusi. Seluruh anggota tetap terlibat dalam diskusi, namun terdapat satu penanggung jawab untuk setiap bagian.

Tabel 5. Lima peran wajib dalam kelompok
PeranTanggung jawab
KoordinatorMengatur jadwal kerja, memastikan pemenuhan tenggat, dan berkomunikasi dengan komisaris kelas
Penelusur dataMenelusuri kandidat dataset, melakukan pengunduhan, dan mengisi kartu dataset
Penelusur kepustakaanMenghimpun rujukan dan memastikan setiap tautan dapat diakses
Penyusun naskahMenuliskan latar belakang, rumusan pertanyaan, tujuan, dan manfaat
Pencatat Log AIMendokumentasikan seluruh pemanfaatan kecerdasan buatan beserta hasil verifikasinya

Penilaian sejawat antarkelompok

Sebelum dokumen dikumpulkan, setiap kelompok diperiksa oleh satu kelompok pasangan. Pasangan yang ditetapkan adalah kelompok 1 dengan 2, kelompok 3 dengan 4, kelompok 5 dengan 6, serta kelompok 7 dengan 8. Tugas pemeriksa adalah menerapkan lima kriteria kelayakan terhadap dataset pasangannya dan menyampaikan sekurang-kurangnya satu catatan perbaikan. Penilaian dari pihak di luar kelompok pada umumnya lebih objektif daripada penilaian atas pekerjaan sendiri.

Tips dan Trik
  • Isi kartu secara terbalik, yaitu tetapkan datasetnya terlebih dahulu sebelum merumuskan judul.
  • Cantumkan pula kandidat dataset yang digugurkan, karena hal tersebut menunjukkan proses pemilihan yang sadar.
  • Simpan berkas dataset pada penyimpanan awan kelompok, tidak hanya pada satu perangkat.
  • Manfaatkan fasilitas Kutip pada Google Scholar untuk memperoleh format APA, lalu periksa kembali hasilnya.
  • Dokumentasikan catatan diskusi kelompok, karena akan berguna pada penyusunan laporan berikutnya.
Visualisasi 10. Garis waktu tahapan proyek
Visualisasi 10Garis waktu tahapan proyek
Poin Penting
  • Luaran pertemuan ini adalah Kartu Rancangan Proyek sepanjang satu sampai dua halaman.
  • Dokumen memuat delapan komponen wajib, termasuk kartu dataset dan Log AI.
  • Setiap kelompok memegang satu klaster tema dengan lima peran yang dibagi secara eksplisit.
  • Dokumen diperiksa melalui penilaian sejawat oleh kelompok pasangan sebelum dikumpulkan.
Studi Kasus Mini
Penyesuaian cakupan sebagai jalan keluar

Salah satu kelompok telah menetapkan pertanyaan mengenai jenis kupu-kupu tertentu di lingkungan kampus. Namun penerapan lima kriteria kelayakan menunjukkan bahwa dataset yang tersedia hanya memuat sebelas rekaman. Sebagian anggota berpendapat agar pertanyaan tersebut dipertahankan, sedangkan sebagian lain mengusulkan penggantian tema. Perbedaan pendapat itu berlangsung hampir separuh sesi tanpa mencapai titik temu.

Jalan keluar akhirnya ditemukan melalui penyesuaian cakupan, yaitu memperluas wilayah kajian dari lingkungan kampus menjadi Kota Medan, sehingga jumlah rekamannya menjadi memadai. Objek kajiannya tetap dipertahankan dan minat awal kelompok tidak hilang, namun dukungan datanya kini mencukupi. Kelompok pasangan yang melakukan pemeriksaan menilai keputusan tersebut tepat dan transparan. Pada tahap pengembangan produk, kelompok ini justru menjadi yang paling lancar karena dasar datanya telah kokoh sejak awal.

Ringkasan Pertemuan 11

Alur kegiatanPerumusan pertanyaan → Penelusuran data → Penilaian kelayakan → Penyusunan Kartu Rancangan Proyek
Empat bentuk pertanyaan empirisJumlah · Sebaran · Kecenderungan waktu · Perbandingan
Empat kriteria pertanyaanDapat dilaksanakan · Menarik · Mengandung kebaruan · Bermanfaat
Tiga portal data terbukagbif.org · bps.go.id · data.go.id
Lima kriteria kelayakan datasetRelevansi · Kecukupan · Konsistensi · Legalitas · Keterolahan
Tiga ketentuan pemanfaatan AIMembantu berpikir · Wajib diverifikasi · Wajib dilaporkan
Prinsip pokokDalam penelitian berbasis data sekunder, rumusan pertanyaan menyesuaikan ketersediaan bukti
Pengumpulan tugasKartu Rancangan Proyek diserahkan melalui komisaris kelas sebelum Pertemuan 12
Pojok Refleksi
  1. Pertanyaan apa yang paling ingin Anda jawab pada pertemuan ini, dan atas dasar pertimbangan apa pertanyaan tersebut dipilih di antara sejumlah kemungkinan lain?
  2. Apabila kelompok Anda harus merumuskan ulang pertanyaan karena keterbatasan data, bagaimana Anda memaknai penyesuaian tersebut dalam konteks proses ilmiah?
  3. Ketidaksempurnaan apa yang Anda temukan pada dataset yang dipilih, dan bagaimana hal itu akan dinyatakan sebagai keterbatasan dalam laporan?
  4. Bagian mana dari pekerjaan hari ini yang dikerjakan dengan bantuan kecerdasan buatan, dan bagian mana yang sepenuhnya merupakan hasil pemikiran kelompok?
  5. Apabila sesi ini diulang dari awal, satu hal apa yang akan Anda kerjakan dengan pendekatan yang berbeda?

+Glosarium

Data terbuka
Data yang sengaja dipublikasikan untuk penggunaan umum sehingga dapat diunduh dan dimanfaatkan siapa saja, umumnya dengan syarat pencantuman sumber.
Dataset
Satu himpunan data yang tersimpan dalam satu berkas atau satu paket, pada umumnya berbentuk tabel yang terdiri atas baris dan kolom.
CSV
Format berkas tabel sederhana yang dapat dibuka oleh hampir seluruh perangkat lunak pengolah angka, termasuk Excel dan Google Sheets.
Lisensi data
Ketentuan yang mengatur hal yang diperkenankan dan tidak diperkenankan atas suatu data, termasuk tata cara pencantuman sumbernya.
Bias pengumpulan
Kecenderungan terhimpunnya data secara tidak merata akibat perbedaan intensitas pengamatan antarwilayah atau antarwaktu.
Sains warga
Kegiatan pengumpulan data ilmiah yang melibatkan masyarakat umum sebagai pengamat sukarela, misalnya melalui aplikasi pencatatan perjumpaan satwa.
Rekaman perjumpaan
Satu catatan yang menyatakan bahwa suatu takson pernah ditemukan pada tanggal dan lokasi tertentu.
Metadata
Keterangan yang menjelaskan suatu dataset, mencakup asal-usul, cara pengumpulan, satuan, dan makna setiap variabelnya.
Log AI
Dokumentasi yang memuat permintaan kepada kecerdasan buatan, keluaran yang diperoleh, hasil verifikasi, serta keputusan akhir pengguna.

Daftar Pustaka

Ball-Damerow, J. E., Brenskelle, L., Barve, N., Soltis, P. S., Sierwald, P., Bieler, R., LaFrance, R., Ariño, A. H., & Guralnick, R. P. (2019). Research applications of primary biodiversity databases in the digital age. PLoS ONE, 14(9), e0215794. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0215794

Beck, J., Böller, M., Erhardt, A., & Schwanghart, W. (2014). Spatial bias in the GBIF database and its effect on modeling species’ geographic distributions. Ecological Informatics, 19, 10–15. https://doi.org/10.1016/j.ecoinf.2013.11.002

Boakes, E. H., McGowan, P. J. K., Fuller, R. A., Chang-qing, D., Clark, N. E., O’Connor, K., & Mace, G. M. (2010). Distorted views of biodiversity: Spatial and temporal bias in species occurrence data. PLoS Biology, 8(6), e1000385. https://doi.org/10.1371/journal.pbio.1000385

Dickinson, J. L., Zuckerberg, B., & Bonter, D. N. (2010). Citizen science as an ecological research tool: Challenges and benefits. Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics, 41, 149–172. https://doi.org/10.1146/annurev-ecolsys-102209-144636

Heberling, J. M., Miller, J. T., Noesgaard, D., Weingart, S. B., & Schigel, D. (2021). Data integration enables global biodiversity synthesis. Proceedings of the National Academy of Sciences, 118(6), e2018093118. https://doi.org/10.1073/pnas.2018093118

Hosseini, M., Resnik, D. B., & Holmes, K. (2023). The ethics of disclosing the use of artificial intelligence tools in writing scholarly manuscripts. Research Ethics, 19(4), 449–465. https://doi.org/10.1177/17470161231180449

Kjelvik, M. K., & Schultheis, E. H. (2019). Getting messy with authentic data: Exploring the potential of using data from scientific research to support student data literacy. CBE—Life Sciences Education, 18(2), es2. https://doi.org/10.1187/cbe.18-02-0023

Ratan, S. K., Anand, T., & Ratan, J. (2019). Formulation of research question: Stepwise approach. Journal of Indian Association of Pediatric Surgeons, 24(1), 15–20. https://doi.org/10.4103/jiaps.JIAPS_76_18

Modul Pertemuan 11 · Teknologi Informasi dan Literasi Data
Program Studi Biologi, FMIPA Universitas Negeri Medan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Pengujian Data: Menimbang Etika, Keterbukaan, dan Ketangguhan Data Penelitian Biologi
Next post Merancang Workflow dan Ruang Kerja Data Penelitian