Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Literasi Data dalam Pembelajaran, Penelitian, dan Pengembangan Biologi
E-Modul Pertemuan 2 · Teknologi Informasi dan Literasi Data (TILDA)
Teknologi yang Tepat untuk Biologi
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Literasi Data dalam Pembelajaran, Penelitian, dan Pengembangan Biologi
Pahat, Kayu, dan Tangan Pengukir
Pengukir gorga, ornamen ukir pada rumah adat Batak, tidak memilih pahat yang paling mahal. Ia memilih pahat yang cocok dengan kayu dan motif yang hendak dibuat, lalu menggerakkannya dengan teknik yang ia latih bertahun-tahun. Pahat terbaik di tangan yang belum terlatih, atau untuk motif yang salah, justru bisa merusak kayu. Keindahan ukiran lahir ketika alat, bahan, dan teknik bertemu.
Teknologi dalam biologi bekerja dengan cara serupa. Pada Pertemuan 1 Anda sudah mengenal teknologi informasi dan literasi data. Pertemuan ini bertanya lebih jauh: kapan teknologi benar-benar membantu? Anda akan memakai kerangka TPACK untuk pembelajaran, memetakan alat di setiap tahap penelitian, berlatih mengambil keputusan dengan siklus PPDAC, mengenal platform data biologi, dan menimbang peluang serta tantangan AI.
Anda akan memilih alat untuk setiap tahap penelitian
Misalnya Google Scholar untuk kajian pustaka, GBIF untuk data keberadaan spesies, BLAST untuk menduga identitas sekuens, dan spreadsheet untuk analisis awal.
Anda akan memilih teknologi untuk tujuan belajar
Misalnya kapan video time-lapse, simulasi PhET, atau mikroskop virtual paling tepat untuk materi mitosis, dan kapan justru tidak perlu.
Apersepsi: realitas virtual atau layar biasa?
Dua kelompok siswa belajar dari simulasi laboratorium yang sama. Kelompok A memakai headset realitas virtual (VR) yang imersif, kelompok B memakai layar komputer biasa. Kelompok mana yang merasa lebih hadir di laboratorium, dan kelompok mana yang belajar lebih banyak? Tebak dulu, baru buka pembahasan.
Lihat pembahasan
Dalam uji acak yang dilaporkan Makransky, Terkildsen, dan Mayer (2019), versi VR imersif membuat siswa merasa lebih hadir, tetapi mereka justru belajar lebih sedikit dibanding siswa yang memakai layar biasa. Teknologi yang lebih canggih tidak otomatis lebih baik untuk belajar.
Pertanyaannya bukan “teknologi apa yang paling canggih?”, melainkan “mengapa alat ini, untuk konsep ini, dengan cara ini?”. Itulah pertanyaan inti TPACK yang dibahas di Bab 1.
Apa yang perlu dipertimbangkan ulang oleh Raka dan Nadira? Catat dugaan Anda. Kita kembali ke mereka di Pojok Refleksi.
- Pertemuan 2 berfokus pada pemanfaatan TI dan literasi data dalam pembelajaran, penelitian, dan pengembangan biologi.
- Teknologi dinilai dari kecocokannya dengan konsep dan cara belajar atau cara meneliti, bukan dari kecanggihannya.
- Produk pertemuan ini adalah Tugas Rutin 2: mind map digital yang diperbarui dan esai analitis 2 sampai 3 halaman.
TI dalam Pembelajaran Biologi: Kerangka TPACK
Memakai teknologi di kelas tidak otomatis membuat belajar lebih baik. Bab ini membahas satu kerangka yang membantu guru, dan siapa pun yang menjelaskan biologi kepada orang lain, memilih teknologi dengan alasan yang jelas.
- Langkah 1Tentukan kontenKonsep biologi apa yang diajarkan?
- Langkah 2Tentukan pedagogiBagaimana siswa paling baik mempelajarinya?
- Langkah 3Pilih teknologiAlat yang cocok dengan konten dan cara belajar.
- Langkah 4Uji kecocokanMengapa alat ini, untuk konsep ini, dengan cara ini?
- Langkah 5Nilai dampaknyaApakah siswa paham, bukan hanya terpukau?
1.1 Tiga pengetahuan yang harus bertemu
Mishra dan Koehler (2006) merumuskan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge). Menurut kerangka ini, integrasi teknologi yang baik terjadi di irisan tiga pengetahuan: pengetahuan teknologi (T), pedagogi (P), dan konten (C). Kerangka ini mengembangkan konsep pedagogical content knowledge dari Shulman dengan menambahkan unsur teknologi, sehingga terbentuk tujuh komponen: TK, PK, CK, PCK, TCK, TPK, dan TPACK. Pilih setiap komponen pada Gambar 2 untuk melihat contohnya pada materi mitosis.
CK · Pengetahuan konten
Apa konsep biologinya?
Tahapan profase, metafase, anafase, dan telofase.
PK · Pengetahuan pedagogi
Bagaimana siswa belajar?
Inkuiri terbimbing: siswa mengurutkan sendiri fase dari pengamatan.
TK · Pengetahuan teknologi
Alat apa yang dikuasai?
Mikroskop virtual, video time-lapse, simulasi PhET.
PCK · Pedagogi dan konten
Bagaimana konsep ini sebaiknya diajarkan?
Guru tahu bahwa fase mitosis mudah dihafal tetapi sulit dipahami sebagai satu rangkaian, sehingga ia meminta siswa mengurutkan sendiri gambar sel dari preparat.
TCK · Teknologi dan konten
Bagaimana teknologi mengubah cara konsep ini ditampilkan?
Video time-lapse memperlihatkan perubahan kromosom secara berkelanjutan, sesuatu yang tidak bisa ditunjukkan oleh empat gambar diam.
TPK · Teknologi dan pedagogi
Bagaimana teknologi mengubah cara mengajar?
Dalam diskusi kelompok, siswa menghentikan video di setiap perubahan penting dan sepakat memberi label fasenya.
TPACK · Ketiganya bertemu
Mengapa alat ini, untuk konsep ini, dengan cara ini?
Video time-lapse sel hidup dipakai agar siswa melihat mitosis sebagai proses kontinu, bukan empat gambar statis.
| Komponen | Pertanyaan kunci | Contoh: materi mitosis |
|---|---|---|
| CK | Apa konsep biologinya? | Tahapan profase, metafase, anafase, telofase |
| PK | Bagaimana siswa belajar? | Inkuiri terbimbing: siswa mengurutkan sendiri fase dari pengamatan |
| TK | Alat apa yang dikuasai? | Mikroskop virtual, video time-lapse, simulasi PhET |
| TPACK | Mengapa alat ini, untuk konsep ini, dengan cara ini? | Video time-lapse sel hidup dipakai agar siswa melihat mitosis sebagai proses kontinu, bukan empat gambar statis |
1.2 Lebih canggih belum tentu lebih baik
Makransky, Terkildsen, dan Mayer (2019) memberi contoh mengapa pertanyaan “mengapa alat ini” penting. Dalam uji acak pada simulasi laboratorium, versi realitas virtual imersif membuat siswa merasa lebih hadir, tetapi justru belajar lebih sedikit dibanding versi layar biasa. Rasa takjub tidak sama dengan pemahaman. Teknologi yang lebih canggih bisa saja menyita perhatian yang seharusnya dipakai untuk memahami konsep.
Mulai dari tujuan belajar
Tentukan dulu konsep dan cara siswa belajar, baru pilih alat. Bila gambar di papan tulis sudah cukup untuk tujuan itu, tidak perlu memaksakan aplikasi.
Logika yang sama berlaku di luar kelas
Saat menjadi asisten praktikum atau mempresentasikan hasil penelitian, Anda juga memilih alat untuk menjelaskan. Pertanyaannya tetap sama: alat ini membantu pemahaman atau hanya memukau?
Sebelum memakai teknologi di rencana pembelajaran, tulis satu kalimat jawaban untuk pertanyaan TPACK: “Saya memakai … untuk konsep … dengan cara … karena …”. Bila kalimat itu sulit dilengkapi, mungkin teknologinya belum perlu.
Guru memakai video time-lapse sel hidup agar siswa melihat mitosis sebagai proses kontinu. Pertimbangan ini paling tepat disebut apa?
Menurut Makransky et al. (2019), apa yang terjadi pada siswa yang memakai VR imersif dibanding layar biasa?
TPACK mengembangkan konsep pedagogical content knowledge dari siapa?
Pilih satu jawaban; umpan balik muncul langsung. Jawaban tidak disimpan dan tidak dinilai.
- TPACK menuntut tiga pengetahuan bertemu: teknologi, pedagogi, dan konten.
- Pertanyaan intinya: mengapa alat ini, untuk konsep ini, dengan cara ini?
- Teknologi yang lebih canggih tidak selalu lebih baik untuk belajar (Makransky et al., 2019).
Ingat satu pelajaran biologi di SMA yang memakai teknologi. Apakah teknologi itu benar-benar membantu Anda memahami konsepnya?
TI dalam Penelitian Biologi
Hampir setiap tahap penelitian biologi kini melibatkan perangkat digital, dari mencari pustaka sampai menyajikan hasil. Bab ini memetakan alat-alat itu ke tahap penelitian, lalu mengenalkan dua alat bioinformatika yang wajib dikenal mahasiswa biologi.
- Langkah 1Kajian pustakaGoogle Scholar, PubMed, Garuda, Zotero.
- Langkah 2Kumpulkan dataFormulir daring, SMART, iNaturalist, kamera jebak.
- Langkah 3Simpan dan bagikanGoogle Drive, RIN BRIN, GBIF.
- Langkah 4Olah dan analisisExcel, Google Sheets, BLAST, R, QGIS.
- Langkah 5SajikanGrafik, Canva, Tableau Public, Power BI.
2.1 Alat di setiap tahap penelitian
Gambar 3 dan Tabel 2 memetakan tahap penelitian ke contoh alat. Alat yang sama akan dipraktikkan bertahap sepanjang semester, sehingga Anda bisa melihat di pertemuan mana setiap alat dilatih.
| Tahap penelitian | Contoh alat | Dipraktikkan di |
|---|---|---|
| Kajian pustaka | Google Scholar, PubMed, Garuda, Zotero, Mendeley | P05, P06 |
| Pengumpulan data | Formulir daring, aplikasi SMART, iNaturalist, GPS, kamera jebak, sekuenser | P03, Mini Riset |
| Penyimpanan dan berbagi | Google Drive, repositori RIN BRIN (data.brin.go.id), GBIF | P03, P04, P09 |
| Pengolahan dan analisis | Excel, Google Sheets, NCBI BLAST, R, QGIS | P07, Mini Riset |
| Penyajian | Grafik spreadsheet, Canva, Tableau Public, Power BI | P07, Proyek |
Untuk skripsi penelitian
Bayangkan alur skripsi Anda nanti: pustaka dari Google Scholar, data lapangan dari formulir daring atau kamera jebak, analisis di spreadsheet atau R, lalu grafik untuk seminar. Setiap tahap punya alatnya.
Untuk penelitian pendidikan
Alurnya sama: kajian pustaka tentang model pembelajaran, data dari tes dan angket daring, analisis skor di spreadsheet, lalu penyajian hasil untuk guru dan sekolah.
2.2 Dua alat bioinformatika yang wajib dikenal
Dua alat ini sering disebut di artikel biologi modern. Anda tidak harus menguasainya sekarang, tetapi perlu tahu apa yang dikerjakannya. Pilih alat pada Gambar 4.
BLAST (Basic Local Alignment Search Tool) diperkenalkan oleh Altschul et al. (1990). Hasilnya berupa dugaan berdasarkan kemiripan, sehingga tetap perlu ditafsirkan: sekuens rujukan di basis data pun bisa salah identifikasi.
AlphaFold (Jumper et al., 2021) memprediksi struktur tiga dimensi protein dari sekuens asam amino. Hasilnya tetap prediksi, bukan pengukuran, tetapi telah mempercepat riset enzim dan obat.
Keluaran BLAST dan AlphaFold tampak meyakinkan: angka kemiripan yang tinggi, gambar protein yang berwarna. Mahasiswa yang literat data tetap bertanya: seberapa mirip yang dianggap cukup, dari mana sekuens rujukannya, dan apakah ini pengukuran atau prediksi?
Anda punya fragmen sekuens DNA dari ikan yang belum dikenali dan ingin menduga spesiesnya. Alat apa yang tepat?
Keluaran AlphaFold berupa apa?
Repositori RIN BRIN paling tepat dipakai pada tahap penelitian yang mana?
Pilih satu jawaban; umpan balik muncul langsung. Jawaban tidak disimpan dan tidak dinilai.
- Setiap tahap penelitian biologi punya alat digitalnya, dari kajian pustaka sampai penyajian.
- BLAST mencocokkan sekuens dengan basis data NCBI untuk menduga identitas organisme atau gen.
- AlphaFold memprediksi struktur tiga dimensi protein dari sekuens asam amino.
Pikirkan satu topik yang mungkin Anda pilih untuk skripsi. Alat apa yang akan Anda pakai di setiap tahapnya?
Literasi Data dalam Pengambilan Keputusan Ilmiah
Keputusan ilmiah tidak diambil dari satu angka. Ia lahir dari rangkaian langkah, dan setiap langkah bisa salah. Bab ini memakai satu siklus sederhana untuk melatih kebiasaan itu.
- Langkah 1ProblemRumuskan masalah yang bisa dijawab data.
- Langkah 2PlanTentukan data dan cara mengambilnya.
- Langkah 3DataCatat dan bersihkan dengan rapi.
- Langkah 4AnalysisPilih analisis dan pembanding yang tepat.
- Langkah 5ConclusionSimpulkan beserta batasnya.
3.1 Siklus PPDAC
Wolff et al. (2016) mengaitkan literasi data dengan siklus inkuiri PPDAC dari Wild dan Pfannkuch (1999): Problem, Plan, Data, Analysis, dan Conclusion. Siklus ini membantu Anda melihat bahwa keputusan ilmiah tidak diambil dari satu angka, tetapi dari rangkaian langkah yang masing-masing bisa salah. Telusuri setiap tahapnya pada Gambar 5 dengan contoh penurunan populasi kupu-kupu di taman kampus.
Problem · apa masalah yang mau dijawab?
Apakah jumlah kupu-kupu di taman kampus menurun dalam lima tahun?
Jebakan: pertanyaan yang terlalu luas, misalnya “Bagaimana keadaan serangga di kampus?”, sulit dijawab dengan data apa pun.
Plan · data apa yang dibutuhkan, bagaimana mengambilnya?
Transek tetap, hitung setiap pagi selama 4 minggu, catat cuaca.
Jebakan: menghitung sekali saja, di jam yang berubah-ubah, atau di rute yang berbeda setiap hari.
Data · bagaimana data dicatat dan dibersihkan?
Spreadsheet dengan kolom tanggal, transek, spesies, jumlah, dan suhu.
Jebakan: mencampur nama lokal dan nama ilmiah dalam satu kolom, atau membiarkan sel kosong tanpa keterangan.
Analysis · analisis apa yang tepat?
Bandingkan rerata per tahun dengan data pengamatan sebelumnya, lalu buat grafik garis.
Jebakan: menyatakan “menurun” tanpa data tahun-tahun sebelumnya sebagai pembanding.
Conclusion · apa yang boleh dan tidak boleh disimpulkan?
Tren hanya berlaku untuk taman kampus; penyebab belum bisa dipastikan.
Jebakan: langsung menunjuk penyebab, misalnya pestisida, padahal penyebab tidak pernah diukur. Kesimpulan sering memunculkan pertanyaan baru, dan siklus dimulai lagi.
| Tahap | Pertanyaan | Contoh: penurunan populasi kupu-kupu di kampus |
|---|---|---|
| Problem | Apa masalah yang mau dijawab? | Apakah jumlah kupu-kupu di taman kampus menurun dalam lima tahun? |
| Plan | Data apa yang dibutuhkan, bagaimana mengambilnya? | Transek tetap, hitung setiap pagi selama 4 minggu, catat cuaca |
| Data | Bagaimana data dicatat dan dibersihkan? | Spreadsheet dengan kolom tanggal, transek, spesies, jumlah, suhu |
| Analysis | Analisis apa yang tepat? | Bandingkan rerata per tahun dengan data pengamatan sebelumnya, buat grafik garis |
| Conclusion | Apa yang boleh dan tidak boleh disimpulkan? | Tren hanya berlaku untuk taman kampus; penyebab belum bisa dipastikan |
3.2 Tahap yang paling sering dilompati
Dari lima tahap, dua yang paling sering dilompati adalah Plan dan Conclusion. Tanpa rencana, data dikumpulkan seadanya sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan. Tanpa kesimpulan yang hati-hati, temuan kecil di satu tempat dinyatakan berlaku umum, atau hubungan dinyatakan sebagai sebab. Literasi data berarti berani menulis “belum dapat disimpulkan” ketika datanya memang belum cukup.
PPDAC di penelitian lapangan
Survei bakau, pengamatan burung, atau uji ekstrak di laboratorium semuanya bisa dibaca dengan PPDAC. Perhatikan terutama batas kesimpulan: di mana, kapan, dan pada organisme apa temuan itu berlaku.
PPDAC di kelas
PPDAC sejalan dengan pembelajaran inkuiri. Siswa merumuskan pertanyaan, merencanakan pengamatan, mencatat data, menganalisis, lalu menyimpulkan dengan hati-hati. Guru bisa memakainya sebagai kerangka lembar kerja praktikum.
Mahasiswa menghitung kupu-kupu sekali saja di jam yang tidak tetap, lalu menyimpulkan populasinya menurun. Tahap PPDAC mana yang paling jelas dilompati?
Kesimpulan mana yang paling sesuai untuk contoh kupu-kupu di Tabel 3?
Pada tahap Analysis, apa yang dibutuhkan agar kata “menurun” dapat dipertanggungjawabkan?
Pilih satu jawaban; umpan balik muncul langsung. Jawaban tidak disimpan dan tidak dinilai.
- PPDAC terdiri atas Problem, Plan, Data, Analysis, dan Conclusion; setiap tahap bisa salah.
- Rencana pengambilan data menentukan apakah data mampu menjawab pertanyaan.
- Kesimpulan yang baik menyebut batasnya: di mana berlaku, dan apa yang belum bisa dipastikan.
Ingat satu kesimpulan di laporan praktikum Anda. Apakah kesimpulan itu menyebut batasnya, atau berlaku terlalu luas?
Platform Digital Biologi serta Peluang dan Tantangan AI
Data dan literatur biologi tersebar di banyak platform. Setiap platform punya jenis isi dan aturan pakai yang berbeda. Memilih platform yang tepat adalah bagian dari kompetensi “menemukan dan memperoleh data” (Calzada Prado & Marzal, 2013). Bab ini ditutup dengan menimbang peluang dan tantangan AI secara berimbang.
- Langkah 1Tentukan kebutuhanArtikel, data spesies, sekuens, atau statistik?
- Langkah 2Pilih platformGoogle Scholar, GBIF, NCBI, BPS, RIN BRIN.
- Langkah 3Cek mutu sumberScopus Preview dan DOAJ untuk jurnal.
- Langkah 4Pakai AI seperlunyaKata kunci, draf kode, ringkasan awal.
- Langkah 5VerifikasiSetiap klaim dan rujukan AI dicek ke sumber asli.
4.1 Butuh apa, buka di mana?
Mulailah dari kebutuhan, bukan dari platform yang paling sering dipakai teman. Pilih kebutuhan Anda pada Gambar 6.
scholar.google.comMesin pencari literatur ilmiah (artikel, tesis, buku) dengan hitungan “Cited by”. Bukan indeks yang dikurasi, sehingga kualitas hasil harus dinilai sendiri.app.dimensions.aiMenghubungkan publikasi, hibah, paten, dan dataset; publikasi dapat dicari gratis.scopus.com/sourcesAkses gratis terbatas ke daftar jurnal terindeks Scopus, profil penulis, dan metrik CiteScore.doaj.orgDirektori jurnal akses terbuka yang telah melewati penilaian. Banyak jurnal Indonesia terdaftar.gbif.orgData keberadaan (occurrence) dan daftar spesies dari seluruh dunia. Setiap unduhan mendapat DOI.ncbi.nlm.nih.govPusat informasi bioteknologi AS: GenBank, BLAST, PubMed, PMC, Taxonomy, dan SRA.bps.go.id, sumut.bps.go.idStatistik resmi Indonesia: pertanian, perikanan, kehutanan, lingkungan, kependudukan.data.go.idPortal data terbuka pemerintah berdasarkan Perpres No. 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia.data.brin.go.idRepositori Ilmiah Nasional berbasis Dataverse untuk menyimpan, mengutip, dan berbagi data penelitian.kaggle.comKumpulan dataset dan notebook publik milik Google, termasuk sebagian dataset biologi. Periksa asal-usul dan lisensi setiap dataset sebelum dipakai.| Platform | Alamat | Isi utama |
|---|---|---|
| Google Scholar | scholar.google.com | Mesin pencari literatur ilmiah dengan hitungan “Cited by”; bukan indeks yang dikurasi |
| DOAJ | doaj.org | Direktori jurnal akses terbuka yang telah melewati penilaian |
| GBIF | gbif.org | Data keberadaan dan daftar spesies dari seluruh dunia; setiap unduhan mendapat DOI |
| NCBI | ncbi.nlm.nih.gov | GenBank, BLAST, PubMed, PMC, Taxonomy, SRA |
| BPS | bps.go.id, sumut.bps.go.id | Statistik resmi Indonesia: pertanian, perikanan, kehutanan, lingkungan, kependudukan |
| RIN BRIN | data.brin.go.id | Repositori Ilmiah Nasional berbasis Dataverse untuk data penelitian |
| Kaggle | kaggle.com | Dataset dan notebook publik, termasuk sebagian dataset biologi |
| Satu Data Indonesia | data.go.id | Portal data terbuka pemerintah (Perpres No. 39 Tahun 2019) |
| Dimensions | app.dimensions.ai | Publikasi, hibah, paten, dan dataset yang saling terhubung; publikasi dapat dicari gratis |
| Scopus Preview | scopus.com/sources | Daftar jurnal terindeks Scopus, profil penulis, dan CiteScore |
4.2 Peluang dan tantangan AI
AI generatif membuka peluang nyata bagi pembelajaran dan penelitian biologi, tetapi membawa tantangan yang sama nyatanya. Pilih ranahnya pada Gambar 7 dan bandingkan kedua kolom.
- Menjelaskan ulang konsep sulit dengan bahasa sederhana.
- Membuat soal latihan.
- Menerjemahkan artikel berbahasa Inggris.
- Jawaban keliru yang terdengar meyakinkan.
- Ketergantungan yang melemahkan latihan berpikir.
- Risiko plagiarisme.
- Membantu menyusun kata kunci pencarian.
- Menulis draf kode analisis R atau Python.
- Meringkas artikel sebagai titik awal.
- Rujukan fiktif (Walters & Wilder, 2023).
- Fakta taksonomi atau biokimia yang salah.
- Bias terhadap data negara maju dan bahasa Inggris.
- Kebocoran data penelitian.
Panduan GenAI Kemendikbudristek (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, 2024) menekankan empat hal yang sejalan dengan aturan kelas TILDA:
UNESCO (Miao & Holmes, 2023) juga menyoroti perlindungan privasi data dan risiko penyeragaman pendapat. Bila semua orang bertanya kepada alat yang sama, jawaban yang diterima pun cenderung seragam.
Setiap pemakaian AI dicatat di log verifikasi, setiap rujukan dari AI diperiksa keberadaannya, dan data pribadi atau data penelitian yang belum terbit tidak ditempel ke chatbot publik.
Anda ingin mengunduh data keberadaan spesies Rasbora di Sumatera Utara. Platform mana yang paling tepat?
Mengapa jumlah hasil Google Scholar tidak bisa dipakai sebagai ukuran mutu?
Mana yang termasuk tantangan AI dalam penelitian biologi?
Pilih satu jawaban; umpan balik muncul langsung. Jawaban tidak disimpan dan tidak dinilai.
- Pilih platform dari kebutuhan: artikel, reputasi jurnal, data spesies, sekuens, statistik resmi, atau tempat menyimpan data.
- Google Scholar bukan indeks terkurasi; kualitas hasilnya dinilai sendiri.
- AI membuka peluang dan membawa tantangan di pembelajaran maupun penelitian; keduanya harus ditimbang.
Platform mana yang paling berguna untuk topik skripsi yang mungkin Anda ambil nanti, dan mengapa?
Praktik C1 sampai C3: Basis Data, Verifikasi AI, dan Tugas Rutin 2
C1 dan C2 dikerjakan berkelompok di kelas (25 menit), sedangkan C3 adalah panduan menyusun Tugas Rutin 2 secara individu di luar kelas. Teks bermuka monospace adalah sesuatu yang diketik atau diklik di komputer.
- Langkah 1C1 · Cari di ScholarKata kunci kelompok, Since 2021.
- Langkah 2C1 · Dimensions dan ScopusBandingkan hasil dan cek jurnalnya.
- Langkah 3C2 · Minta 5 artikel ke AILengkap dengan penulis, jurnal, DOI.
- Langkah 4C2 · Beri labelValid, metadata salah, tidak mendukung, fiktif.
- Langkah 5C3 · Tugas Rutin 2Mind map, esai, rujukan, bukti AI.
C1. Pencarian artikel di tiga basis data
- Tentukan topik kelompok. Contoh topik:
eDNA biodiversity monitoring Indonesia,virtual laboratory biology learning, ataucamera trap Sumatran tiger. - Cari di Google Scholar. Buka
scholar.google.com, ketik kata kunci, lalu batasi tahun di panel kiri denganSince 2021. Catat jumlah hasil dan tiga judul teratas. - Cari di Dimensions. Buka
app.dimensions.aidan ketik kata kunci yang sama. Centang filterOpen Accessbila perlu. Catat jumlah hasil dan tiga judul teratas. - Cek jurnalnya di Scopus Preview. Buka
scopus.com/sourcesdan ketik nama jurnal dari salah satu artikel. Catat apakah jurnal itu terindeks dan berapa CiteScore-nya. - Simpan bukti. Ambil tangkapan layar hasil pencarian dan simpan di folder
02_P02.
Google Scholar sering menampilkan ribuan hasil, tetapi bukan indeks yang dikurasi. Jumlah hasil yang besar tidak berarti topiknya kuat atau artikelnya bermutu. Yang Anda bandingkan adalah relevansi tiga judul teratas dan reputasi jurnalnya.
C2. Membandingkan hasil pencarian dengan jawaban AI
- Ajukan prompt berikut dengan topik kelompok Anda.
Sebutkan 5 artikel ilmiah tentang <topik kelompok> yang terbit 2021-2025, lengkap dengan penulis, jurnal, dan DOI.
- Periksa setiap artikel. Tempel DOI ke
https://doi.org/diikuti DOI-nya. Jika tidak ada DOI, cari judulnya disearch.crossref.orgatau Google Scholar. - Bandingkan per kolom. Cocokkan penulis, tahun, judul, nama jurnal, volume, dan halaman.
- Beri label mengikuti alur pada Gambar 9: valid, metadata salah, tidak mendukung klaim, atau fiktif. Hitung persentasenya dan bandingkan dengan temuan Walters dan Wilder (2023).
C3. Menyusun Tugas Rutin 2
- Perbarui mind map P01. Tambahkan cabang baru: platform digital, TPACK, PPDAC, serta peluang dan tantangan AI. Gunakan alat digital seperti Canva, Miro, XMind, atau draw.io.
- Tulis esai analitis 2 sampai 3 halaman dengan struktur berikut.
- Pendahuluan: satu masalah biologi yang dipilih.
- Analisis: TI dan data apa yang dipakai untuk masalah itu, serta keterbatasannya.
- Peran AI: manfaat dan risiko, berdasarkan pengalaman di C2.
- Simpulan: satu rekomendasi konkret.
- Pakai minimal 5 rujukan ilmiah dalam format APA 7. Setiap rujukan harus bisa ditemukan di Google Scholar atau Crossref.
- Lampirkan bukti AI: prompt, cuplikan jawaban, dan log verifikasi dari C2, ditambah refleksi satu paragraf tentang proses verifikasi.
- Unggah satu PDF bernama
NIM_P02_TR2_Nama.pdf.
Esai deskriptif berhenti di “apa”: GBIF adalah portal data keberadaan spesies. Esai analitis bertanya “lalu apa”: data GBIF untuk Sumatera Utara mungkin tidak merata antarwilayah, sehingga peta sebaran yang dibuat darinya perlu ditafsirkan hati-hati. Setiap paragraf analisis sebaiknya memuat satu klaim, buktinya, dan keterbatasannya.
- Bandingkan beberapa basis data dan periksa reputasi jurnalnya, bukan hanya jumlah hasil.
- Setiap artikel dari AI diberi satu label: valid, metadata salah, tidak mendukung klaim, atau fiktif.
- Tugas Rutin 2 menggabungkan mind map yang diperbarui, esai analitis, minimal lima rujukan, dan bukti pemakaian AI.
Dari Ranah ke Esai: Aktivitas dan Tugas Pertemuan 2
Di tatap muka, kelompok Anda menganalisis satu ranah biologi, mencari artikel di beberapa basis data, membandingkannya dengan jawaban AI, lalu mempresentasikan temuannya. Di luar kelas, Anda menyusun Tugas Rutin 2 secara individu. Rangkaian ini melatih kemandirian, keberinisiatifan, etika berkomunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab.
A. Alur kegiatan tatap muka (2 × 50 menit)
| Tahap | Waktu | Kegiatan |
|---|---|---|
| Buka | 10 menit | Presensi, tinjau ulang mind map P01 secara acak (2 mahasiswa). Pembentukan kelompok 4 sampai 5 orang. |
| Teori | 20 menit | Ceramah interaktif Bab 1 sampai Bab 4 dengan fokus pada TPACK dan PPDAC. |
| Kasus | 20 menit | Setiap kelompok mendapat satu ranah (pendidikan, laboratorium, konservasi, bioinformatika, penelitian) dan menganalisis teknologi, jenis data, kemampuan literasi data, serta keterbatasannya. |
| Praktik | 25 menit | Prosedur C1 dan C2: pencarian di Google Scholar, Dimensions, atau Scopus Preview, lalu dibandingkan dengan jawaban AI. |
| Presentasi | 15 menit | Tiap kelompok 3 menit. Kelompok lain memberi satu pertanyaan. |
| Tutup | 10 menit | Penjelasan Tugas Rutin 2 (Prosedur C3) dan refleksi tertulis. |
B. Tugas Rutin 2, tugas individu
Tugas Rutin 2 melanjutkan mind map Tugas Rutin 1 dan menambahkan esai analitis. Langkah pembuatannya ada di Prosedur C3 halaman Praktik. Bobotnya 5% dari nilai akhir.
1 · Mind map digital
Mind map P01 diperbarui dengan cabang platform digital, TPACK, PPDAC, serta peluang dan tantangan AI.
2 · Esai analitis
2 sampai 3 halaman: pendahuluan, analisis TI dan data, peran AI, serta simpulan berupa satu rekomendasi konkret.
3 · Minimal 5 rujukan
Rujukan ilmiah dalam format APA 7, semuanya dapat ditelusuri di Google Scholar atau Crossref.
4 · Bukti pemakaian AI
Prompt, cuplikan jawaban, dan log verifikasi dari Prosedur C2.
5 · Refleksi verifikasi
Satu paragraf tentang proses memverifikasi jawaban AI: apa yang ditemukan dan apa yang dipelajari.
Berkas
Satu PDF bernama NIM_P02_TR2_Nama.pdf, diunggah ke LMS sebelum batas waktu.
Skor maksimum rubrik umum
C. Kriteria penilaian
| Produk | Kriteria utama |
|---|---|
| Tugas Rutin 2 | Mind map digital yang lengkap dan akurat; esai yang analitis, bukan deskriptif; minimal 5 rujukan APA 7 yang dapat ditelusuri; bukti dan refleksi pemakaian AI. Dinilai dengan rubrik umum RPS. |
| Presentasi kelompok | Ketepatan contoh, kejelasan penyampaian, kemampuan menjawab pertanyaan. |
- Tenggat Tugas Rutin 2: 3 hari setelah P2.
- Satu PDF bernama
NIM_P02_TR2_Nama.pdfberisi mind map, esai, daftar pustaka, bukti AI, dan refleksi. - Setiap rujukan harus dapat ditemukan di Google Scholar atau Crossref; rujukan yang hanya muncul di jawaban AI tidak dihitung.
Kembali ke Raka dan Nadira
Raka memasukkan lima artikel dari chatbot ke slide hanya karena semuanya ber-DOI. Kini Anda tahu bahwa DOI pun bisa dikarang. Setiap artikel perlu ditempel ke https://doi.org/, dicocokkan metadatanya, lalu diberi label: valid, metadata salah, tidak mendukung klaim, atau fiktif. Ribuan hasil di Google Scholar juga tidak berarti topiknya kuat atau artikelnya bermutu, karena Google Scholar bukan indeks yang dikurasi. Raka perlu memeriksa relevansi judul teratas dan reputasi jurnalnya di Scopus Preview atau DOAJ.
Nadira tergoda oleh teknologi paling canggih. Makransky et al. (2019) menunjukkan bahwa VR imersif membuat siswa merasa lebih hadir tetapi belajar lebih sedikit. Pertanyaan TPACK-nya belum terjawab: mengapa VR, untuk konsep mitosis, dengan cara apa? Data kupu-kupunya juga melompati dua tahap PPDAC. Satu kali hitungan tanpa rencana dan tanpa data tahun sebelumnya tidak bisa menunjukkan penurunan. Penyebabnya pun tidak pernah diukur, sehingga kesimpulan yang jujur adalah “belum dapat dipastikan”.
1. Teknologi apa yang paling sering Anda pakai untuk belajar biologi? Apakah Anda memilihnya karena cocok atau karena terbiasa?
2. Pernahkah Anda menilai mutu sumber dari jumlah hasil pencarian atau jumlah sitasinya saja?
3. Tahap PPDAC mana yang paling sering Anda lewati saat menulis laporan praktikum?
4. Sebagai calon peneliti atau calon guru, peluang AI mana yang ingin Anda manfaatkan, dan tantangan mana yang paling perlu Anda waspadai?
Janji kecil untuk memilih teknologi
- Saya memilih teknologi berdasarkan konsep dan tujuan, bukan karena paling canggih.
- Saya mencari di lebih dari satu basis data dan memeriksa reputasi jurnalnya.
- Saya membuka setiap DOI dari jawaban AI dan memberinya label.
- Saya merencanakan pengambilan data sebelum mengumpulkannya.
- Saya menulis batas kesimpulan: di mana berlaku dan apa yang belum dapat dipastikan.
- Saya menulis esai yang menganalisis, bukan hanya menggambarkan.
Jawaban Anda tidak dinilai; gunakan untuk melihat kebiasaan mana yang perlu dibangun lebih dulu. Mulailah dari yang paling kecil: sebelum memakai alat baru, tulis satu kalimat jawaban untuk pertanyaan “mengapa alat ini?”. Di Pertemuan 3, Anda akan membuka sendiri data dari GBIF dan NCBI dan mengenali bentuk serta formatnya.
Glosarium dan Daftar Pustaka
Glosarium
| Istilah | Arti sederhana |
|---|---|
| TPACK | Technological Pedagogical Content Knowledge; integrasi teknologi yang baik terjadi di irisan pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten (Mishra & Koehler, 2006) |
| PCK | Pedagogical content knowledge; pengetahuan tentang cara mengajarkan suatu konten, gagasan Shulman yang dikembangkan menjadi TPACK |
| Realitas virtual imersif | Tampilan lewat headset yang membuat pengguna seolah berada di dalam lingkungan buatan |
| BLAST | Basic Local Alignment Search Tool; alat untuk mencocokkan sekuens DNA atau protein dengan basis data NCBI |
| AlphaFold | Model AI yang memprediksi struktur tiga dimensi protein dari sekuens asam amino |
| PPDAC | Siklus inkuiri Problem, Plan, Data, Analysis, Conclusion (Wild & Pfannkuch, 1999) |
| Transek | Jalur pengamatan tetap yang dilalui dengan cara yang sama setiap kali pengamatan |
| Okurensi | Catatan keberadaan suatu spesies di tempat dan waktu tertentu |
| Indeks terkurasi | Basis data yang memilih jurnal berdasarkan penilaian mutu, misalnya Scopus dan DOAJ; Google Scholar bukan indeks terkurasi |
| CiteScore | Metrik sitasi jurnal yang ditampilkan Scopus |
| DOI | Digital Object Identifier; pengenal persisten untuk artikel atau dataset, dapat dibuka lewat doi.org |
| Repositori data | Tempat menyimpan, mengutip, dan berbagi data penelitian, misalnya RIN BRIN |
| Metadata salah | Label untuk artikel dari AI yang ada, tetapi penulis, tahun, judul, jurnal, volume, atau halamannya tidak cocok |
| Esai analitis | Esai yang tidak berhenti pada penjelasan, tetapi menimbang bukti, keterbatasan, dan implikasinya |
Daftar Pustaka
Altschul, S. F., Gish, W., Miller, W., Myers, E. W., & Lipman, D. J. (1990). Basic local alignment search tool. Journal of Molecular Biology, 215(3), 403-410. https://doi.org/10.1016/S0022-2836(05)80360-2
Calzada Prado, F. J., & Marzal, M. Á. (2013). Incorporating data literacy into information literacy programs: Core competencies and contents. Libri, 63(2), 123-134. https://doi.org/10.1515/libri-2013-0010
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. (2024). Panduan penggunaan generative artificial intelligence (GenAI) pada pembelajaran di perguruan tinggi. Kemendikbudristek. https://s.id/PanduanGenAI
GBIF Secretariat. (2026). Activity report: Indonesia. https://analytics-files.gbif.org/country/ID/GBIF_CountryReport_ID.pdf
Jumper, J., Evans, R., Pritzel, A., et al. (2021). Highly accurate protein structure prediction with AlphaFold. Nature, 596(7873), 583-589. https://doi.org/10.1038/s41586-021-03819-2
Makransky, G., Terkildsen, T. S., & Mayer, R. E. (2019). Adding immersive virtual reality to a science lab simulation causes more presence but less learning. Learning and Instruction, 60, 225-236. https://doi.org/10.1016/j.learninstruc.2017.12.007
Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000386693
Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological pedagogical content knowledge: A framework for teacher knowledge. Teachers College Record, 108(6), 1017-1054. https://doi.org/10.1111/j.1467-9620.2006.00684.x
Walters, W. H., & Wilder, E. I. (2023). Fabrication and errors in the bibliographic citations generated by ChatGPT. Scientific Reports, 13, 14045. https://doi.org/10.1038/s41598-023-41032-5
Wild, C. J., & Pfannkuch, M. (1999). Statistical thinking in empirical enquiry. International Statistical Review, 67(3), 223-248. https://doi.org/10.1111/j.1751-5823.1999.tb00442.x
Wolff, A., Gooch, D., Cavero Montaner, J. J., Rashid, U., & Kortuem, G. (2016). Creating an understanding of data literacy for a data-driven society. The Journal of Community Informatics, 12(3), 9-26.
Selamat Datang di Pertemuan 2
Selamat datang di pertemuan kedua. Di Pertemuan 1 Anda mengenal teknologi informasi, hierarki DIKW, transformasi digital, dan literasi data. Kali ini Anda melihat semuanya bekerja: bagaimana teknologi dipilih untuk pembelajaran, alat apa yang dipakai di setiap tahap penelitian, bagaimana keputusan ilmiah diambil dari data, platform mana yang menyimpan data biologi, dan apa peluang serta tantangan AI. Modul ini disusun untuk mahasiswa Biologi dan Pendidikan Biologi sekaligus.
| Identitas Modul | |
|---|---|
| Mata kuliah | Teknologi Informasi dan Literasi Data (TILDA), 2 SKS, semester 3 |
| Pertemuan | Ke-2: Pemanfaatan TI dan Literasi Data dalam Biologi |
| Sasaran | Mahasiswa Prodi Biologi dan Prodi Pendidikan Biologi |
| Sub-CPMK | Sub-CPMK 1. Menjelaskan konsep dasar teknologi informasi, literasi data, transformasi digital, dan perannya dalam ilmu biologi. |
| Indikator | Mengidentifikasi manfaat teknologi informasi dan literasi data dalam pembelajaran, penelitian, dan pengembangan ilmu biologi. |
| Metode | Case method, diskusi kelompok, presentasi, refleksi |
| Media | Laptop/PC, proyektor, LMS, Google Scholar, Scopus Preview, Dimensions, NCBI, GBIF, ChatGPT/Copilot/Gemini, PowerPoint, internet |
| Nilai karakter | Kemandirian, keberinisiatifan, etika berkomunikasi, kerja sama, tanggung jawab |
| Tagihan | Tugas Rutin 2 (individu): mind map digital, esai analitis 2-3 halaman, minimal 5 rujukan APA 7, bukti pemakaian AI dan refleksi verifikasinya |
| Bobot penilaian | Tugas Rutin 2: 5% dari nilai akhir |
| Alokasi waktu | 2 × 50 menit tatap muka, ditambah penugasan terstruktur dan belajar mandiri |
Setelah mempelajari modul ini, Anda mampu:
- Menjelaskan tujuh komponen TPACK dan memakainya untuk menilai pemakaian teknologi dalam pembelajaran biologi.
- Memetakan alat digital ke setiap tahap penelitian biologi, termasuk BLAST dan AlphaFold.
- Menerapkan siklus PPDAC untuk menilai sebuah keputusan ilmiah, termasuk batas kesimpulannya.
- Memilih platform digital yang tepat untuk kebutuhan literatur dan data biologi.
- Membandingkan hasil basis data ilmiah dengan jawaban AI dan memberi label pada setiap artikel.
- Menimbang peluang dan tantangan AI secara berimbang, lalu menyusun Tugas Rutin 2.
Gunakan menu di atas untuk berpindah bagian, atau tombol di bawah setiap halaman untuk melanjutkan. Setiap bagian punya alamat sendiri, jadi Anda bisa menyimpan atau membagikan tautan ke bab tertentu, dan tombol Back di peramban membawa Anda ke bagian sebelumnya.
Setiap bab dibuka dengan timeline bergerak yang merangkum langkah kerjanya dan ditutup dengan kuis Cek Pemahaman. Modul ini juga memuat lima gambar interaktif; klik tombol di dalam gambar untuk berpindah tampilan. Siapkan mind map Tugas Rutin 1 dan satu alat AI sebelum masuk ke halaman Praktik.