Problem Based Learning (Pembelajaran Berdasarkan Masalah)

Pengertian

Problem Based Learning (PBL) seperti kurikulum dalam proses pembelajaran. Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut siswa mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapai  tantangan yang nanti diperlukan dalam karier dalam kehidupan sehari-hari (Amir, 2010). Pembelajaran berdasarkan masalah sebagai salah satu strategi pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektualnya berupa belajar berbagai peran orang dewasa dan melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi pembelajar yang kreatif (Setiawan, 2008).

Berbeda dengan lingkungan belajar yang terstruktur dengan ketat yang dibutuhkan untuk pengajaran langsung, atau penggunaan kelompok-kelompok kecil secara seksama di dalam cooperative learning, lingkungan belajar dan sistem manajemen untuk pengajaran berbasis masalah ditandai oleh proses-proses demokratik dan terbuka serta peran aktif siswa. Faktanya seluruh proses untuk membantu siswa agar dapat menjadi pembelajar yang mandiri dan self-regulated, yang meyakini kemampuan intelektualnya sendiri, membutuhkan keterlibatan aktif di lingkungan yang aman dan inquiry-oriented (berorientasi menyelidiki). Meskipun guru dan siswa menjalani fase-fase pelajaran PBL dengan cara yang agak terstruktur dan dapat diprediksi, norma-norma di seputar pelajaran itu adalah open inquiry dan kebebasan berpikir. Lingkungan belajarnya menekankan pada peran sentral si pembelajar, bukan si pengajar (Arends, 2008).

Dilihat dari aspek psikologi belajar, pembelajaran berdasarkan masalah bersandarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi harus melalui proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungannya. Melalui proses ini sedikit demi sedikit siswa akan berkembang secara utuh. Artinya, perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psokomotor melalui penghayatan secara internal akan problema yang dihadapi. Fokusnya tidak banyak pada apa yang sedang dikerjakan siswa (perilaku mereka), tetapi pada apa yang mereka pikirkan (kognisi) selama mereka mengerjakannya. Meskipun peran guru dalam pelajaran berbasis masalah kadang-kadang juga melibatkan mempresentasikan dan menjelaskan berbagai hal kepada siswa, tetapi lebih sering memfungsikan diri sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa dapat belajar untuk berpikir dan menyelesaikan masalahnya sendiri (Arends, 2008).

Karakteristik Problem Based Learning

Pembelajaran berbasis masalah dirancang dalam suatu prosedur pembelajaran yang diawali dengan sebuah masalah dan menggunakan instruktur sebagai pelatih metakognitif. Ada suatu perbedaan yang mendasar antara problem solving dan problem based learning. Dalam pembelajaran dengan strategi problem solving seperti yang kebanyakan dilakukan oleh para guru dewasa ini, siswa disuguhi permasalahan setelah kepada mereka dipresentasikan informasi mengenai materi ajar (fakta, konsep, prinsip, hukum, dan sebagainya), dan mereka tidak tahu mengapa mereka harus mempelajari materi ajar tersebut. Sedangkan dalam prosedur Problem Based Learning, setting awalnya adalah penyajian masalah. Proses pembelajari dimulai setelah siswa dikonfrontasikan dengan struktur masalah real, sehingga dengan cara itu siswa mengetahui mengapa mereka harus mempelajari materi ajar tersebut. Informasi-informasi akan mereka kumpulkan dan mereka analisis dari unit-unit materi ajar yang mereka pelajari dengan tujuan untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Masalah yang disajikan juga hendaknya dapat memunculkan konsep-konsep maupun prinsip-prinsip yang relevan dengan content domain. Melalui problem based learning siswa akan belajar bagaimana menggunakan suatu proses interaktif dalam mengevaluasi apa yang mereka ketahui, mengidentifikasi apa yang perlu mereka ketahui, mengumpulkan informasi, dan kolaborasi dalam mengevaluasi suatu hipotesis berdasarkan data yang telah mereka kumpulkan. Sedangkan guru lebih berperan sebagai tutor dan fasilitator dalam menggali dan menemukan hipotesis, serta dalam mengambil kesimpulan (Tika, 2008).

Dasar dari pembelajaran berdasarkan masalah ini sebenarnya berakar dari prinsip Dewey yang berbunyi “learning by doing and experiencing”. Menurut Akinoglu dan Tandogan (2007), keunggulan model pembelajaran berdasarkan masalah diataranya adalah sangat mempengaruhi prestasi akademik, sikap dan konsep belajar siswa dalam pendidikan sains, serta mengubah siswa sebagai penerima informasi yang pasif menjadi aktif dan bebas mengajukan pendapat. Model ini juga memungkinkan siswa dapat menghadapkan dirinya untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan apa yang dipelajari dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Arends (2008) mendeskripsikan bahwa model instruksional ini memiliki fitur-fitur sebagai berikut:

  1. Pertanyaan atau masalah perangsang. Alih-alih mengorganisasikan pelajaran di seputar prinsip akademis atau keterampilan tertentu, PBL mengorganisasikan pengajaran di seputar pertanyaan dan masalah yang penting secara sosial dan bermakna personal bagi siswa. Mereka menghadapi berbagai situasi kehidupan nyata yang tidak dapat diberi jawaban-jawaban sederhana dan ada berbagai solusi yang competing untuk menyelesaikannya.
  2. Fokus interdisipliner. Meskipun PBL dapat dipusatkan pada subjek tertentu (sains, matematika, sejarah, biologi), tetapimasalah yang diinvestigasi dipilih karena solusinya menuntut siswa untuk menggali banyak subjek.
  3. Investigasi autentik. PBL mengharuskan siswa untuk melakukan investigasi autentik yang berusaha menemukan solusi riil untuk masalah riil. Mereka harus menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, engumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen (bila mungkin), membuat inferensi, dan menarik kesimpulan.
  4. Produksi artefak dan exhibit. PBL menuntut siswa untuk mengonstruksikan produk dalam bentuk artefak dan exhibit yang menjelaskan atau merepresentasikan solusi mereka.
  5. Kolaborasi. Seperti model cooperative learning, PBL ditandai oleh siswa-siswa yang bekerja bersama siswa-siswa lain, paling sering secara berpasangan atau dalam bentuk kelompok-kelompok kecil.

Problem Based Learning tidak dirancang untuk membantu guru dalam menyampaikan informasi dengan jumlah besar kepada siswa. Pengajaran langsung dan ceramah lebih cocok untuk maksud ini. Alih-alih, PBL, seperti diilustrasikan dalam Gambar dibawah ini, dirancang terutama untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir, keterampilan menyelesaikan masalah, dan keterampilan intelektualnya dengan mempelajari peran-peran orang dewasa dengan mengalaminya melalui berbagai situasi riil atau situasi yang disimulasikan dan menjadi pelajar mandiri dan otonom.




Hasil yang Diperolah Pelajar dari Problem Based Learning

Tahapan-tahapan Dalam Problem Based Learning

Di tingkat paling fundamental, PBL ditandai oleh siswa yang bekerja berpasangan atau dalam kelompok-kelompok kecil untuk menginvestigasi masalah kehidupan nyata yang membingungkan. Sebagian orang percaya bahwa perencanaan yang terperinci tidak dibutuhkan dan mungkin bahkan tidak mungkin dibuat. Hal ini sama sekali tidak benar. PBL, seperti pendekatan pengajaran interaktif lain yang berpusat kepada siswa, membutuhkan upaya perencanaan yang sama banyaknya atau bahkan lebih. Perencanaan gurulah yang memfasilitasi perpindahan yang mulus dari suatu fase pelajaran berbasis masalah ke fase lainnya dan memfasilitasi pencapaian tujuan instruksional yang diinginkan (Arends, 2008). Proses PBL akan dapat dijalankan bila pengajar siap dengan segala perangkat yang diperlukan (masalah, formulir pelengkap, dan lain-lain). Pembelajar pun harus sudah memahami konsepnya, dan telah membentuk kelompok-kelompok kecil. Menurut Amir (2010), umumnya setiap kelompok menjalankan proses yang sering dikenal dengan Proses 7 Langkah. Langkah-langkah tersebut dapat dilihat pada Tabel dibawah.

LangkahKeterangan
Langkah 1
Mengklarifikasi Istilah dan konsep yang belum jelas
Memastikan setiap anggota kelompok memahami berbagai istilah dan konsep yang ada dalam masalah.
Langkah 2
Merumuskan masalah
Fenomena yang ada dalam masalah menuntut penjelasan hubungan-hubungan apa yang terjadi di antara fenomena itu. Kadang-kadang ada hubungan yang masih belum nyata antara fenomenanya.
Langkah 3
Menganalisis Masalah
Anggota kelompok mengeluarkan pengetahuan terkait apa yang sudah dimiliki anggota tentang masalah. Terjadi diskusi yang membahas informasi faktual dan juga informasi yang ada dalam pikiran anggota.
Langkah 4
Menata gagasan Anda secara sistematis menganalisisnya dengan dalam
Bagian yang sudah dianalisis dilihat keterkaitannya satu sama lain, dikelompokkan mana yang saling menunjang, mana yang saling bertentangan, dan sebagainya. Analisis adalah upaya memilah sesuatu menjadi bagian-bagian yang membentuknya.
Langkah 5
Memformulasikan tujuan pembelajaran
Kelompok dapat merumuskan tujuan pembelajaran karena kelompok sudah tahu pengetahuan mana yang masih kurang, dan mana yang masih belum jelas. Tujuan pembelajaran akan dikaitkan dengan analisis masalah yang dibuat.
Langkah 6
Mencari informasi tambahan dari sumber yang lain (di luar diskusi kelompok)
Saat ini kelompok sudah tahu informasi apa yang tidak dimiliki, dan sudah punya tujuan pembelajaran. Kini saatnya mereka harus mencari informasi tambahan itu dan menentukan di mana hendak mencarinya. Mereka harus mengatur jadwal, menentukan sumber informasi.
Langkah 7
Mensintesa (menggabungkan) dan menguji informasi baru, dan membuat laporan untuk guru
Dari laporan-laporan individu/subkelompok, yang dipresentasikan di hadapan anggota kelompok lain, seluruh akan mendapatkan informasi-informasi baru. Anggota yang mendengar laporan haruslah kritis tentang laporan yang disajikan.

Menurut Arends (2004), di dalam pembelajaran berdasarkan masalah, peran guru berbeda dengan kelas konvensional. Peran guru dalam kelas pembelajaran berdasarkan masalah antara lain sebagai berikut:

  1. Mengorientasikan siswa pada masalah.
  2. Mengorganisasi siswa untuk belajar
  3. Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok.
  4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
  5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Referensi

  1. Amir, M. Taufiq, (2010), Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
  2. Arends, R. I., (2008), Learning to Teach: Belajar untuk Mengajar, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
  3. Setiawan, I .G, (2008), Penerapan Pengajaran Kontekstual Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X2 SMA Laboratorium Singaraja, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 2(1), 42-59.
  4. Akinoglu, O., dan Tandongan, R. O., (2007), The Effects of Problem-Based Active Learning in Science Education on Student’s Academic Achievement, Attitude and Concept Learning, Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 3(1), 71-81.
  5. Tika, I Ketut, (2008), Penerapan Problem Based Learning Berorientasi Penilaian Kinerja dalam Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Kompetensi Kerja Ilmiah Siswa, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Undiksha, Nomor 3 TH. XXXXI Juli 2008.
Previous Post
Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *